Tradisi Ruwatan Semakin Terlupakan

150
NGURI-URI BUDAYA : Para narasumber menyampaikan paparannya dalam Dialog Saresehan Ruwatan Surakarta, bertajuk “Ruwatan sebagai Media Pembersihan Diri” yang digelar Kampung Jawa Sekatul, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
NGURI-URI BUDAYA : Para narasumber menyampaikan paparannya dalam Dialog Saresehan  Ruwatan Surakarta, bertajuk “Ruwatan sebagai Media Pembersihan Diri” yang digelar Kampung Jawa Sekatul, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
NGURI-URI BUDAYA : Para narasumber menyampaikan paparannya dalam Dialog Saresehan Ruwatan Surakarta, bertajuk “Ruwatan sebagai Media Pembersihan Diri” yang digelar Kampung Jawa Sekatul, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL— Ritual khusus yang bertujuan untuk membersihkan diri dalam tradisi Jawa atau biasa disebut ruawatan makin terkikis oleh budaya praktis. Padahal tradisi ruwatan memiliki makna mengajar manusia untuk membersihkan diri, berbuat baik, berhati-hati dan menghindarkan diri dari sengkala.

Demikian mengemuka dalam Dialog Saresehan Ruwatan Surakarta, bertajuk “Ruwatan sebagai Media Pembersihan Diri” yang digelar Kampung Jawa Sekatul, Limbangan, Jumat (26/12). Dialog tersebut diadakan untuk memahami makna dari ruwatan yang sudah banyak dilupakan dan ditinggalkan masyarakat Jawa. “Ruwatan tradisi yang dijunjung tinggi orang Jawa untuk membersihkan dari dosa dan kesalahan agar terhindar dari sengkala atau rintangan hidup yang diakibatkan energi negatif dalam diri,” ujar pemilik Kampung Jawa Sekatul, Kanjeng Pangeran Harya Adipati (KPHA) Djojo Nagoro.

Prosesinya bisa dilakukan dengan banyak hal, mulai dari upacara pagelaran wayangan, upacara sesaji dan berkorban, mandi kembang setaman, memakai pakaian serba putih dan ritual doa memohon keselamatan pada sang hyang widi yakni Dewi Sri (dewi pemberi rezeki) dan menjauhkan dari batarakala atau berbagai keburukan yanng dapat menimpa seseorang. “Tradisi ruwatan itu dilakukan sesuai tradisi yang ada. Misalkan hanya memiliki satu anak baik perempuan atau laki-laki maka disebut ontang-anting. Anak itu harus diruwat agar terhindar dari segala mara bahaya,” jelasnya.

Ruwatan juga berlaku bagi pasangan pengantin yang ingin menikah. Yakni dengan melihat hari kelahiran masing-masing calon. “Memang terkesan tradisi Jawa ribet, tapi sebetulnya ini adalah upaya berhati-hati agar hidupnya bisa selamat,” tandasnya.

Sekarang ini, ruwatan yang memiliki nilai tinggi dan mengajarkan manusia akan kebaikan tersebut justru banyak ditinggalkan oleh masyarakat Jawa. Ibarat kata, ruwatan adalah sikap pasrah terhadap ketentutan Tuhan disertai dengan doa dan perilaku kebaikan agar terhindar dari keburukan.

Ketua Panitia Kanjeng Raden Tumenggung, Setijo Negoro mengatakan dialog ruwatan tersebut diikuti 100 peserta. Terdiri berbagai aliran kepercayaan, budayawan, akademisi, tokoh agama dan tokoh masyarakat tokoh-tokoh kerajaan-kerajaan di tanah Jawa. “Harapannya ruwatan ini bisa kembali hidup di bumi Jawa ini,” katanya. (bud/ric)