DEKORASI MINIMALIS: Gerai Es Teler 77 dengan desain dekorasi minimalis lebih menghemat biaya, sehingga tahan terhadap goncangan makro ekonomi. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
DEKORASI MINIMALIS: Gerai Es Teler 77 dengan desain dekorasi minimalis lebih menghemat biaya, sehingga tahan terhadap goncangan makro ekonomi. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
DEKORASI MINIMALIS: Gerai Es Teler 77 dengan desain dekorasi minimalis lebih menghemat biaya, sehingga tahan terhadap goncangan makro ekonomi. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

SIMPANG LIMA – Ketika krisis moneter (krismon) 1997 silam, banyak bisnis yang merosot, bahkan gulung tikar. Meski begitu, Es Teler 77 justru terus naik daun dengan membuka 21 gerai. Di antaranya, di Batam, Padang, Bengkulu, Bandung, Semarang, dan Pekanbaru.

Owner Es Teler 77, Murniati Widjaja pun merasa bersyukur dengan kondisi tersebut. Pasalnya, krismon saat itu boleh dibilang pengalaman buruk bagi karyawan. ”Tidak sedikit yang terkena PHK, lantaran perusahaannya. Hal itu tidak berlaku bagi karyawan Es Teler 77. Mereka malah mendapat bonus tunjangan hari raya (THR),” tuturnya.

Apa kuncinya? Murniati menjelaskan bahwa yang pertama, Es Teler 77 menjual produk hasil dalam negeri. Saat krisis, menjadi kesempatan bagi produk Indonesia untuk berkembang, karena tidak terpengaruh fluktuasi pertukaran mata uang dengan dolar AS. Makanya, pada masa krismon, gerai Es Teler 77 masih bisa menjual produk dengan harga terjangkau. Dengan begitu, usaha ini mampu mendahului kompetitor terutama pebisnis asing maupun lokal yang menggunakan bahan impor.

Konsep gerai small but beautiful, katanya, merupakan kunci kedua dalam menunjang eksistensinya. Es Teler 77 tetap mempertahankan konsep makanan cepat saji (fast food) dengan ruangan minimalis. Dengan begitu, ongkos set up dan dekorasi bisa direm. Faktor ini yang sangat membantu dalam penghematan biaya operasional.

”Di saat krismon seperti itu, banyak teori bisnis yang jungkir balik. Tidak relevan dan tidak dapat digunakan. Saat seperti itulah dibutuhkan kreativitas. Jeli melihat pasar dan keberanian beradaptasi dengan keadaan,” papar Murniati.
Hal itu dibuktikan dengan dibukanya cabang internasional Es Teler 77 pertama di Singapura tahun 1998. ”Ketika daya beli masyarakat melemah akibat meroketnya nilai dolar AS, mereka berbalik mencintai produk sendiri yang harganya terkangkau dan dirasa lebih ekonomis,” pungkasnya. (mg16/ida/ce1)