SOLID: Anggota UKM Musik Udinus berfoto bersama usai menggelar kegiatan. (DOK. PRIBADI)
SOLID: Anggota UKM Musik Udinus berfoto bersama usai menggelar kegiatan. (DOK. PRIBADI)
SOLID: Anggota UKM Musik Udinus berfoto bersama usai menggelar kegiatan. (DOK. PRIBADI)

Hidup tanpa musik bagaikan sayur tanpa garam. Saking pentingnya musik, siapa pun tidak akan bisa lepas dari perpaduan nada-nada tersebut. Karena alasan itulah UKM Musik Udinus dibentuk. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL, Pindrikan Lor

UKM Musik Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang merupakan satu dari unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang dimiliki kampus ini. UKM tersebut berdiri pada 27 Juli 1999 lalu saat mulai muncul berbagai komunitas musik di masing-masing fakultas.

”Supaya tidak terpencar dan membentuk komunitas sendiri-sendiri akhirnya dijadikan satu menjadi UKM Musik,” ungkap Misbahul Munir, salah satu anggota UKM tersebut kepada Radar Semarang.

Bagi Munir, musik merupakan salah satu bentuk penyampai informasi. Apa yang ada di dalam diri dapat dikeluarkan dan disampaikan melalui musik. Oleh karena itu, musik selalu disebut sebagai media universal untuk mengekpresikan diri selain media-media yang lain.

”Melalui musik kita bisa menjadi diri sendiri. Tidak ada yang ditutup-tutupi,” ujar mahasiswa jurusan Teknik Informatika (TI) semester akhir ini.

Diceritakan, awalnya UKM ini hanya beranggotakan 20 orang. Meski jumlahnya masih sedikit, namun tidak mengurangi kreativitas mereka. Bahkan dari keterbatasan jumlah itu, mereka ingin menunjukkan diri bahwa UKM mereka tidak kalah dengan lainnnya.

”Kami mulai mengikuti berbagai ajang festival musik baik di tingkat kota maupun provinsi. Hasilnya beberapa anggota kami berhasil meraih penghargaan seperti best drummer tingkat Jateng,” akunya.

Tidak hanya menekuni bidang musik, imbuh Munir, UKM tersebut mulai merambah dunia event organizer (EO) atau pengelola acara. Mereka menilai antara musik dan EO merupakan dua hal yang saling berkesinambungan. Selain itu, tidak semua yang bergabung di komunitas tersebut dari awal sudah ahli bermusik.

”Justru ini menjadi prestasi bagi kami. Karena ini penting sebagai mahasiswa, sebagai bekal setelah lulus. Anggota kami, Kholik, juga telah ada yang memiliki EO sendiri namanya Seven Organizer,” ujar pria berambut keriting panjang ini.

Hal yang menarik dari UKM ini adalah mereka selalu berbagi satu sama lain. Bagi yang sudah ahli bermusik dapat mengajari anggota lainnya yang baru belajar.

Menurut Munir, UKM ini adalah sebagai wadah untuk berproses. Sehingga satu sama lain saling mendukung. Adapun hasilnya baru dapat dirasakan setelah lulus dari kampus.

”Tidak hanya laki-laki, anggota kami juga banyak yang perempuan. Bahkan tahun ini dipimpin Citra Vetty Wulan Permanasari,” terangnya.

Rencana terdekat yang ingin mereka wujudkan tahun ini adalah membuat album indie kompilasi. Di mana album tersebut berisi karya-karya dari anggota UKM Udinus. Sehingga selain dapat dinikmati di dalam kampus, album tersebut juga dapat didistribusikan ke luar kampus.

”Anggota baru saat ini telah kami arahkan untuk membentuk grup band yang akhirnya berbuah karya,” imbuh Munir yang mengaku jumlah anggota saat ini mencapai 70 orang.

Selain dua kegiatan utama mereka, ternyata banyak kegiatan-kegiatan lain yang mereka lakukan. Di antaranya, menggelar festival musik pelajar setiap tahun, musik parkir, sampai klinik musik yang rutin digelar rutin di studio musik mereka.

”Menurut kami, musik itu luas dan tak terbatas. Kita tidak boleh berhenti pada satu jenis saja,” pungkas pria yang bergerak dalam bidang penelitian dan pengembangan (Litbang) UKM Musik Udinus ini. (*/aro/ce1)