Karyawan Direbut Pesaing, Usaha Sempat Terpuruk

165
ULET : Prajoko menunjukkan kerajinan kerang produksinya. (Puput puspitasari/radar kedu)
ULET : Prajoko menunjukkan kerajinan kerang produksinya. (Puput puspitasari/radar kedu)
ULET : Prajoko menunjukkan kerajinan kerang produksinya. (Puput puspitasari/radar kedu)

Setelah sempat jatuh bangun, Prajoko berhasil membuktikan diri sebagai perajin kerang laminasi yang eksis. Bahkan hasil produksinya dijual sampai ke Amerika dan Spanyol. Seperti apa kisahnya?

PUPUT PUSPITASARI, MAGELANG

Di balik rumah yang sederhana, dan ditumbuhi banyak pohon pisang sebagai peneduh, terdapat aktivitas 15 karyawan Prajoko yang sedang merampungkan pesanan kerajinan kerang laminasi. Mereka tampak serius mengerjakan kerajinan kerang-kerang itu.

Prajoko memang asli kelahiran dari Kota Magelang. Dan kota itu jauh dari pesisir pantai. Namun justru terdapat perajin kerang. Pria yang akrab disapa Joko ini berkisah, sejak tahun 1987, dirinya menjadi seorang pedagang berbagai kerajinan dari berbagai daerah di Pulau Bali.

Salah satu dagangannya adalah kerajinan dari kerang. Seringnya bertemu dengan penyuplai barang, dia lantas kenal dengan kepala bagian produksi kerajinan kerang tempat ia kulakan. Joko kemudian minta diajari. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencoba usaha itu.

“Saya pindah ke Bandung dan mulai merintis usaha tahun 2002. Saya mengundang tetangga-tetangga saya untuk latihan membuat kerajinan kerang bersama-sama. Lama-lama bisa produksi sendiri,” katanya Kamis (25/12) kemarin ditemui di rumahnya di Ketepeng, Trunan, Magelang Selatan.

Setelah enam bulan, barulah produknya bisa standar atau layak jual. Setelah itu dia mendapatkan kepercayaan dari seseorang. Dia menerima order pemesanan dengan uang muka Rp 3 juta, yang kemudian dibuat modal.

“Saya juga mengalami salah-salah beli bahan. Tapi setelah enam bulan itu bisa berkembang. Sampai tahun 2004, 100 persen produk saya dikirim ke Bali,” akunya yang mengatakan pengerjaan masih secara manual.

Memasuki 2005, dia kembali ke kampung halaman. Masih dengan usaha yang sama, selain mengirim ke Bali, juga ke Jogjakarta dan Solo. Banyak trading yang mulai dia kenal. Trading-trading itulah yang memasarkan produknya hingga ke luar negeri seperti Amerika dan Spanyol.

“Saya hanya suplayer, trading yang punya buyer sendiri,” ungkapnya yang saat ini 90 persen produksinya untuk memenuhi pesanan dari luar negeri.

Kadang dia merasa tak adil, sebagai perajin ditekan untuk bisa produksi dengan harga yang murah. Namun, trading hingga ke atas-atasnya, menikmati keuntungan yang berlipat.
“Sebetulnya pengen mata rantai itu terputus. Harapannya, dari perajin langsung ke buyer, tapi kami masih kesulitan,” keluhnya.

Dalam produksi, pria yang sudah 13 tahun menggeluti usaha ini mengaku, tak menemui kendala. Hanya pada saat pengeringan saja. Jika musim hujan, kurang maksimal sehingga harus dioven. “Yang penting kena panas matahari dulu, sampai kerang bisa kaku atau tegak, baru bisa dioven,” tuturnya.

Dia membeberkan cara membuat kerajinan kerang laminasi. Pertama, kulit kerang dicuci terlebih dahulu, setelah bersih baru dibakar. Ada dua cara membakar kerang, kalau menginginkan warna putih harus dibakar pakai pasir, sedangkan untuk menghasilkan warna coklat dibakar pakai arang. “Sebetulnya warna coklat itu adalah warna gosong,” jelasnya.
Setelah dua tahap itu selesai, kerang tadi direndam dalam air H2O2 hidroksi peroksida untuk warna putih yang berfungsi untuk memutihkan dan melunakkan, sedangkan untuk warna coklat cukup direndam air bisa tanpa campuran. Selanjutnya dicetak, bisa pakai cetakan maupun konstruksi.

“Kalau sudah, dikeringkan, diamplas kasar dulu baru diamplas halus. Barulah diberi resin dasar. Nanti diamplas lagi dan dirapikan bentuknya pakai gerinda. Terakhir diresin lagi, itu sudah finishing,” papar pria 50 tahun ini.
Ia juga sering menerima order laminasi. Ada beberapa orang yang datang membawa pola atau konstruksi, dan minta untuk dilaminasi kerang.

“Pernah ada yang ke sini bawa dua sepeda ontel kayu dan minta dilaminasi kerang,” ungkapnya.
Kendati hasilnya bagus dan awet, benda pecah belah, kata Joko, tetap memiliki kelemahan. Jika resin retak atau pecah, lalu kemasukan air, maka akan merembes ke kerang yang di dalamnya.

“Nggak awetnya karena resin hanya di lapisan luar saja. Tapi kalau tidak ada retak, bisa awet lama. Dan sebetulnya, resin kuat suhu panas hingga 70 derajat,” sebutnya yang pernah mendapatkan bantuan hibah 14 macam mesin untuk menunjang produksinya.

Sebagai seorang perajin, dia pernah mengalami keterpurukan. Beberapa karyawannya yang sudah mahir, tiba-tiba direbut oleh trading yang biasa mengambil produksinya. Diam-diam trading itu membuat usaha yang sama, dan dia kehilangan banyak karyawan. Hal itu terjadi tahun 2009.

“Saat itu saya merasa terpuruk sekali. Banyak trading dan perajin yang ada di Kota Gede membela saya, kalau cara merebut seperti itu tidak etis. Apalagi dengan iming-iming bayaran yang lebih tinggi,” urai pemilik usaha dengan nama Sabila Craft itu.

Namun, kurang dari satu tahun, trading itu kolaps. Banyak karyawan yang di-PHK, termasuk karyawannya yang dulu direbut. Akhirnya kembali lagi, dan beberapa karyawan trading tersebut membuat usaha sendiri.

“Yang saya yakini, semua rezeki sudah diatur. Sehingga, kalau masih rezeki saya, pasti akan kembali,” sebutnya.
Sekarang, dia mampu memproduksi 6.000 pieces placemat scallop dalam sebulan. Model tersebut yang setiap bulan diproduksi, karena ada pelanggan tetap.

“Namanya perajin, omzetnya tidak selalu sama. Jadi rata-rata Rp 30 juta, dan pernah sampai Rp 184 juta. Namun pernah juga nggak ada pemasukan, tapi tetap membayar karyawan tetap saya,” ujar pria yang sudah mendapatkan sertifikat dari Badan Standarisasi Nasional tahun 2013 itu.

Yang paling disyukuri suami dari Susilawati tersebut, hasil dari kerajinannya bisa membiayai sekolah anaknya. “Alhamdulillah, bisa buat biaya anak saya sekolah di pondok pesantren, ada yang sudah kuliah di Jogjakarta dan anak nomor dua kuliah di Kairo. Target dari usaha saya ini adalah bisa nyekolahin anak saya setinggi mungkin, ilmunya manfaat dan hafal Alquran,” pungkasnya. (*/lis)