SERING HILANG: Selama musim liburan Natal dan Tahun Baru, pengelola Taman Wisata Candi Borobudur tidak mewajibkan wisatawan memakai sarung ketika naik candi. (DOK RADAR KEDU)
SERING HILANG: Selama musim liburan Natal dan Tahun Baru, pengelola Taman Wisata Candi Borobudur tidak mewajibkan wisatawan memakai sarung ketika naik candi. (DOK RADAR KEDU)
SERING HILANG: Selama musim liburan Natal dan Tahun Baru, pengelola Taman Wisata Candi Borobudur tidak mewajibkan wisatawan memakai sarung ketika naik candi. (DOK RADAR KEDU)

MUNGKID – Selama musim libur Natal dan tahun baru 2015, pihak Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) tidak mewajibkan pengunjung mengenakan sarung saat naik ke candi. Kebijakan ini diambil karena mempertimbangkan ketersediaan sarung tak sebanding dengan jumlah pengunjung yang membludak.

Kepala Divisi Administrasi dan Keuangan Unit TWCB Aryono Hendro Maliyanto mengatakan, musim liburan akhir tahun seperti ini, pihaknya bisa kebanjiran pengunjung. Wisatawan yang datang bisa mencapai 25 ribu orang per harinya. Sedangkan sarung yang tersedia hanya 15 ribu saja.

“Kalau dipaksakan tetap memakai sarung seperti sebelumnya, maka akan terjadi penumpukan antrean pengunjung di shelter pemakaian sarung,” katanya.

Selain permasalahan kurang tersedianya sarung, hal itu juga untuk menghindari kehilangan sarung seperti selama ini terjadi. Sebab, banyak pengunjung yang tak mengembalikan sarung dan dibawa pulang.

“Harusnya setelah dipakai, sarung itu dikembalikan. Ada juga yang menggunakan sarung tidak semestinya atau untuk penutup kepala supaya tidak kepanasan dan banyak yang meninggalkan begitu saja di candi,” sesalnya.

Kendati demikian, pihaknya tetap akan memberikan pelayanan yang maksimal untuk wisatawan yang ingin menikmati liburan di candi . Ada beberapa kesenian tradisional yang akan disuguhkan untuk wisatawan. Pertunjukan tersebut dihelat di Panggung Lumbini sejak 20 Desember 2014 hingga 1 Januari 2015.

“Ada kesenian tradisional tong-tong lek, kuda lumping, prajuritan, dayakan, jathilan, topeng ireng, kubro siswo, warokan, dan wayang kulit. Selain itu akan disuguhkan musik keroncong serta demo membuat batik tulis, demo gerabah dan juga membuat pensil gaul,” sebutnya.

Usaha ini ditujukan untuk memberikan hiburan kepada pengunjung dan mengakomodinir kelompok kesenian tradisioanal di sekitar candi. Musim liburan ini, TWCB menargetkan dikunjungi 491.192 wisatawan atau naik lima persen dari tahun lalu. Jumlah tenaga keamanan juga ditambah menjadi 200 personel yang terdiri dari anggota Polres Magelang, Kodim 0705, Satpol PP, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan internal TWCB. (put/ton)