Uang Sewa Rp 100 Ribu, Ada Senam Aerobik Bersama

284
BIAYA MURAH: Kondisi Rusunawa Unnes yang masih tampak bersih. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)
BIAYA MURAH: Kondisi Rusunawa Unnes yang masih tampak bersih. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)
BIAYA MURAH: Kondisi Rusunawa Unnes yang masih tampak bersih. (EKO WAHYU BUDIYANTO/RADAR SEMARANG)

Rumah susun sewa (rusunawa) Universitas Negeri Semarang (Unnes) diperuntukkan bagi mahasiswi Bidikmisi. Selain sebagai tempat tinggal, sejumlah kegiatan digelar di sini. Mulai kegiatan keagamaan hingga kebugaran.
EKO WAHYU BUDIYANTO, Kalisegoro

RUSUNAWA Unnes berlokasi persis di bibir Sungai Conthok, Kelurahan Kalisegoro, Gunungpati. Bangunan 4 lantai tersebut terbagi menjadi 94 kamar tidur. Penghuninya semua mahasiswi Unnes program Bidikmisi (bantuan biaya pendidikan mahasiswa tidak mampu yang berprestasi, Red).

Saat koran ini mendatangi rusunawa tersebut, Kamis (25/12) kemarin, dari luar suasananya tampak sepi. Padahal rusunawa tersebut dihuni sebanyak 300 mahasiswi. Mereka terdiri atas mahasiswi program Bidikmisi semester 1 sebanyak 250 orang, dan 87 mahasiswi PPG atau Program Profesi Guru SM3T, salah satu program dari Kementerian Pendidikan Tinggi. Rupanya kemarin banyak yang pulang kampung karena liburan akhir tahun.

Para mahasiswi menempati kamar berukuran 4×3 meter persegi. Satu kamar diisi 4 orang. Di dalam kamar terdapat fasilitas 2 bed kasur tingkat, 2 almari besi, serta 1 meja belajar. Selain itu, di rusunawa tersebut terdapat 64 kamar mandi untuk bersama, 5 kantin serta 1 musala yang digunakan untuk beribadah mahasiswi muslim.

Salah satu penghuni rusunawa Unnes, Darwati, mengaku betah tinggal di rusunawa tersebut. Menurut dia, harga sewa rusunawa cukup murah, hanya Rp 100 ribu per bulannya. ”Jika dibandingkan dengan harga sewa kos, di sini lebih miring,” kata mahasiswi Unnes asal Kebumen ini.

Dikatakan, dengan hanya membayar Rp 100 ribu per bulan, ia sudah mendapatkan fasilitas air bersih, listrik, dan wifi gratis.

”Kalau mau login wifi memang harus pakai akun sikadu (sistem akademik terpadu). Jadi tidak semua orang selain mahasiswa Unnes dapat mengaksesnya,” ujarnya.
Di rusunawa Unnes, kata dia, para mahasiswi tak hanya tidur dan belajar. Tapi, juga ada kegiatan yang diikuti seluruh penghuni rusunawa. Mulai kegiatan pengajian, salat berjamaah, senam aerobik, hingga kursus bahasa Inggris bagi mahasiswi semester 1.

Dikatakan Darwati, biaya tambahan harus dikeluarkan jika ikut senam aerobik bersama, dan kursus bahasa Inggris. ”Sebesar Rp 10 ribu untuk bayar kursus sama bayar instruktur senam aerobik yang datang seminggu sekali,” kata mahasiswi Jurusan Akuntansi ini.

Penghuni rusunawa lainnya, Dian Handayani, menambahkan, sistem penjagaan rusunawa dilakukan oleh satpam yang bertugas secara bergantian.

”Satpam di sini berjaga siang dan malam di pintu gerbang. Selain itu, di pintu masuk rusunawa ada penjaga lagi yang bertugas menjaga tamu agar tidak masuk ke rusunawa, karena selain penghuni dilarang masuk,” tegasnya.

Hal itu dilakukan untuk menjaga keamanan barang-barang milik para mahasiswi penghuni rusunawa tersebut. ”Meski ini rusunawa, tapi tidak lantas kita bebas keluar masuk. Karena maksimal keluar malam hingga pukul 22.00. Jika lebih dari itu, terpaksa tidur di kos teman,” kata Dian yang juga mahasiswi Jurusan Akuntansi asal Kabupaten Purbalingga ini.

Dian menambahkan, kegiatan keagamaan lain yang juga digelar di rusunawa adalah mentoring dan yasinan. Kegiatan agama Islam itu dilakukan setiap malam Jumat. Menurut dia, hal itu dilakukan guna membekali mahasiswi dengan ilmu-ilmu keagamaan.

Kepala Pengelola Rusunawa Unnes, Heri Tjahyono, mengatakan, selain fasilitas di atas, terkait keamanan kendaraan milik mahasiswi, juga diberikan tempat parkir yang representatif. Selain itu, juga terdapat perpustakaan mini.

Dikatakan, jika bangunan rusunawa masih asli dan belum pernah direnovasi. Tak heran, jika kondisi rusunawa yang dikelolanya kini sudah tidak sempurna lagi. Ada beberapa dinding yang retak, serta warna cat yang memudar. Sebab, sejak ditempati memang belum pernah dicat ulang. ”Ada beberapa titik yang jika terjadi hujan lebat, airnya merembes,” kata Heri yang juga dosen Jurusan Geografi Unnes ini. (*/aro/ce1)