Awalnya Berhutang Mori, Kini Digemari Konsumen Luar Negeri

221
BATIK ASLI : Wulan Utoyo tidak mengikuti arus pasar, tetap mempertahankan batik tulis asli sebagai karya seni anak bangsa. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
BATIK ASLI : Wulan Utoyo tidak mengikuti arus pasar, tetap mempertahankan batik tulis asli sebagai karya seni anak bangsa. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)
BATIK ASLI : Wulan Utoyo tidak mengikuti arus pasar, tetap mempertahankan batik tulis asli sebagai karya seni anak bangsa. (LUTFI HANAFI/RADAR SEMARANG)

Perkembangan batik yang menjadi industri garmen, memaksa banyak pengusaha batik beralih ke batik sablon dan print. Namun, tidak semuanya turut larut dalam arus pasar tersebut. Salah satunya Wulan Utoyo, salah satu seniman batik halus yang masih bertahan dengan karya-karyanya. Seperti apa?

HANAFI, Pekalongan

BAGI Wulan Utoyo, batik adalah kreativitas dan karya seni yang menggunakan alat canting dan malam. Makanya dia sangat prihatin, dengan banyak batik saat ini yang dibuat secara instan dengan batik cap, printing maupun sablon.
“Sekarang, hanya ada tiga pengusaha batik Pekalongan yang masih bertahan dengan karya batik tulis halus. Termasuk saya, satu di antaranya,” ungkap mantan guru Taman Kanak-Kanak (TK) ini.

Karena itulah, perempuan yang tinggal di Jalan Kintamani nomor 21 Pekalongan sejak tahun 1998 ini, sengaja mendirikan galeri Batik Bulan. “Saya ingin membuat batik yang benar-benar batik. Sekarang banyak batik yang dibuat secara instan,” sesalnya di galeri miliknya di Jalan AR Hakim Batang.

Memang tak mudah untuk membuat batik tulis. Untuk membuat satu lembar kain, dibutuhkan biaya besar dan waktu yang lama. Diawali dari harga kain, desain gambar, memindah ke kain, mulai mencanting. Waktu pengerjaan sampai tiga bulan. Mencanting berkali-kali, pewarnaan, plorot, warna diulangi sampai sempurna.

Setiap hari dikerjakan karyawan, setiap hari pula harus membayar gaji karyawan. Jadi kalau ditotal ongkos produksinya sangat besar pula. Sehingga jika harga karya batik bisa mencapai belasan juta rupiah per potong, sudah standar.
“Saya ada batik kain sutra harganya sampai Rp 15 juta untuk sarimbit. Mungkin orang mengira mahal, padahal untuk memproduksi selembar kain itu butuh biaya besar,” jelas dia.

Bahkan, kendati dirinya saat ini mengincar ekspor batik ke Jepang, namun jumlah pengirimannya dipastikan tidak akan besar. Bagaimanapun, konsumsi batik terbesar adalah di dalam negeri sendiri. “Ke luar negeri hanya by order,” kata wanita yang belum lama ini menggelar pameran di Jepang.

Di galerinya itu, dia juga ingin mengajak kliennya dari mancanegara maupun domestik datang melihat langsung proses pembuatan batik. “Untuk pengerjaan batik, sekarang saya pindah ke Limpung,” ungkap dia.

Ditegaskan Wulan, produksi batik di galerinya, semuanya menggunakan canting. Canting yang dipakai juga jenis yang halus, dengan ukuran titik, setengah dan satu. Misalnya ada produk yang pakai batik cap, pasti tetap diberikan tambahan pakai canting. Karena sengaja dibuat eksklusif, peminatnya datang dari berbagai negara, di antaranya Malaysia, Singapura, dan Italia.

Kepada Radar Semarang, anak pertama dari delapan saudara ini mengaku bahwa darah seni mengalir dari kedua orang tuanya yang keturuna Tionghoa. Karyanya cenderung didominasi ornamen bunga dan kupu-kupu dengan pewarnaan yang cerah.
“Pangsa pasar batik saya, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa sampai orang tua. Meski begitu, kebanyakan pelanggan saya orang-orang yang sudah berusia di atas 40 tahun,” kata dia.

Kendati begitu, dibalik kesuksesannya, ternyata Wulan tak terbilang mulus dalam memulai karirnya. Tak ada modal yang ia punya, dia berniat berhutang kain mori ke tetangganya. Lantaran belum kenal baik, Wulan setiap hari terus melewati rumah tetangganya tiap pagi. “Tujuannya biar kenal. Makanya kalau pagi saya lewat rumahnya. Setelah kenal, kemudian saya pinjam dua gulung kain sekitar 450 meter,” kenangnya.

Dari kesulitan itulah, hasil karya seninya dikenal masyarakat dan memberikan penghasilan. “Dulu batik itu hanya daster dan kain. Makanya saya belajar total. Awalnya iseng-iseng mendesain dan membuat baju batik. Dan ternyata diminati,” ucapnya.

Guna menjaga kualitas, satu desainnya hanya diproduksi sebanyak satu unit. “Pada 2015 mendatang, trennya warna cerah. Karena kemungkinan orangnya akan lebih semangat,” katanya.

Saat ini, dia memiliki 80 orang pegawai yang bertugas mencanting, pewarnaan dan menjahit. Dia berencana memperluas pasarnya hingga ke mancanegara. “Saya mau meningkatkan penjualan. Dengan tiga sistem marketing, dari pameran, agen dan online. Karena selama ini pasarnya terbatas, sekarang saya ingin masyarakat dunia juga kenal batik tulis, batik yang benar-benar batik,” pungkas Wulan. (*/ida)