KAJEN-Kondisi memprihatinkan menyelimuti Kabupaten Pekalongan di akhir tahun 2014. Diperkirakan, sebanyak 1500 orang di Kota Santri terindikasi HIV/AIDS. Kendati berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pekalongan, baru 137 orang yang diketahui positif terjangkit HIV/AIDS.Sedangkan sebanyak 400 orang di antaranya, masuk dalam zona paling berpotensi.

Kasie Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Pekalongan, Suwondo mengatakan bahwa peningkatan penderita HIV/AIDS sangat signifikan. “Pada 1 Desember 2014, baru terdata 130 orang. Tapi pada 24 Desember kemarin ini, sudah bertambah tujuh orang lagi,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Dari 137 penderita tersebut, jelasnya, 56 di antaranya meninggal dunia. Padahal mereka rata-rata berusia produktif antara 25 hingga 34 tahun. Untuk proporsinya, sebanyak 73 orang teridentifikasi terjangkit HIV dan 64 orang sudah terkena AIDS. Rentang waktu dari HIV ke AIDS, sekitar 5 hingga 10 tahun.

Para penderita terdiri atas 35 ibu rumah tangga, 32 orang bekerja sebagai buruh, 29 orang wiraswasta dan 15 orang Pekerja Seks Komersial (PSK). Mereka tersebar di 17 kecamatan dari 19 kecamatan di Kabupaten Pekalongan.

Mereka ditangani puskesmas di daerah masing masing. Di antaranya, Puskesmas Karanganyar yang menangani 18 pasien, Puskesmas Tirto I terdapat 15 pasien, Puskesmas Siwalan ada 10 pasien, Wiradesa 9 pasien dan Puskesmas Bojong I sebanyak 9 pasien.

“Ada dua kecamatan yang belum ditemui adanya warga yang terjangkit HIV/AIDS. Yakni Kecamatan Doro dan Lebak Barang. Namun, itu belum jaminan dua kecamatan tersebut bebas dari penderita HIV/AIDS. Mungkin saja, masyarakat tidak mau melapor,” jelasnya.

Sebab, jika dilihat dari estimasi Dinkes, ungkap Suwondo, di Kabupaten Pekalongan diperkirakan ada 1500 orang terindikasi HIV-AIDS. “Itu estimasi keseluruhan. Jika di suatu wilayah ada satu orang terkena HAIV/AIDS, diperkirakan 100 orang di wilayah itu juga terkena,” ungkapnya.

Dari jumlah tersebut yang paling rawan terinfeksi adalah sekitar 400 orang. Mereka berasal dari kelompok berisiko dan kebanyakan adalah pekerja seks. “Di Lokalisasi Kebun Suwung saja ada 100 PSK. Ada beberapa para pembeli, tapi hanya sebagian kecil,” jelasnya.

Karena itu, langkah antisipasinya dengan ABCDE, yakni Abstain atau tidak berhubungan seksual sebelum ada hubungan yang sah. Believefull, setia kepada pasangan. Condom, yakni menggunakan kondom saat berhubungan seks. Drug, tidak menggunakan jarum suntik bergantian dan Education yang merupakan pendidikan dalam hal keagamaan. (hil/ida)