WARNA-WARNI: Eny Listiyawati menunjukkan sejumlah tas produknya dengan ciri khas permainan warna. (NURUL PRATIDINA)
 WARNA-WARNI: Eny Listiyawati menunjukkan sejumlah tas produknya dengan ciri khas permainan warna. (NURUL PRATIDINA)

WARNA-WARNI: Eny Listiyawati menunjukkan sejumlah tas produknya dengan ciri khas permainan warna. (NURUL PRATIDINA)

Awalnya hanya untuk mengisi waktu, namun tas rajut buatan Eny Listiyawati ternyata laris manis di pasaran. Bahkan, kini telah menembus pasar luar negeri.

NURUL PRATIDINA

TAS rajut dengan berbagai bentuk tertata rapi di salah satu sudut resto di kawasan Jalan S. Parman belum lama ini. Warna-warninya kian mempercantik tas-tas buatan tangan (handmade) tersebut. Tak sedikit pengunjung yang tertarik, akhirnya membeli untuk dibawa pulang.

”Memang ini salah satu ciri dari produk saya. Berani bermain di warna,” ujar Eny Listiyawati, pemilik Tas Kawung Rajut saat ditemui Radar Semarang usai menjadi salah seorang pembicara di bincang bisnis.

Awalnya, perempuan kelahiran Magelang ini sekadar ingin mengisi waktu luangnya. Ya, tak betah berlama-lama berpangku tangan, Eny mulai membuat benda-benda kerajinan tangan. Dimulai dari mengutak-utik kerudung, dompet, dan beberapa lainnya.

”Pada dasarnya saya itu susah diam, maunya mengerjakan sesuatu. Saat ada kesempatan, sekitar tahun 2007, saya mulai bikin kerajinan tangan. Ternyata teman-teman banyak yang tertarik,” ujar Eny kepada Radar Semarang.

Dari situ, mulailah ia masuk dunia usaha. Belum terlalu besar, namun ibu dari dua anak ini mulai bisa membaca peluang. Di antaranya adalah peluang untuk mengembangkan usaha ke kerajinan tas. Ia pun beralih ke tas rajut.
”Prinsip saya, untuk bisa eksis di dunia usaha, maka produk harus berkualitas dan memiliki ciri. Saya ambil di warna. Biasanya kan perempuan suka memadupadankan baju dengan tas, dan susah nyari tas warna hijau, merah, oranye, dan lain-lain. Nah, warna-warna ini saya lengkapi,” katanya.

Diakuinya, hal tersebut bukan tanpa kendala. Di antaranya dalam mencari bahan baku serta sumber daya manusia. Ya, untuk memenuhi permintaan dengan beragam warna, Eny seringkali harus memesan khusus.

”Begitu juga dengan perajin. Saya inginnya produk yang benar-benar berkualitas dengan standar tertentu. Sedangkan yang namanya handmade, terkadang juga tergantung perajinnya, karena itu saya cari yang benar-benar terampil,” ujarnya.
Untuk pemasaran, perempuan yang juga suka berorganisasi ini awalnya sekadar mengandalkan sistem dari mulut ke mulut dan pameran. Karena itu, kualitas sangat dijaga, pun agar sesuai dengan nama dari produknya ’Kawung’.
”Kawung saya pilih untuk brand produk-produk saya, karena maknanya yang baik dan kuat,” ucapnya.

Berkat ketekunannya, kini ia dapat memberdayakan sedikitnya 40 perajin, dengan hasil 100 produk per bulan. Produknya sudah menyebar hingga luar Pulau Jawa, bahkan luar negeri. Namun sebagian besar produknya didistribusikan ke Jakarta.
”Untuk luar Jawa, ada sejumlah reseller. Sedangkan di luar negeri juga sering saya bawa saat pameran. Di antaranya ke Singapura dan Tiongkok. Responsnya juga bagus, karena produk Indonesia ini memang unik,” ujarnya.

Selain itu, Eny juga berupaya untuk terus berinovasi. Tak sekadar menjadi pengikut, tapi menciptakan tren. Sehingga ia tidak ditinggalkan oleh pelanggan. ”Ada kepuasan tersendiri saat melihat tas desain dan buatan kami disukai dan dipakai oleh banyak orang, tapi tidak pasaran,” katanya.

Ke depan, ia berharap dapat menularkan semangat entrepreneurship-nya tersebut ke masyarakat, khususnya kaum perempuan. ”Saya ingin mengajak masyarakat untuk mencintai produk-produk Indonesia, bahkan memproduksi dan mengenalkan ke luar, karena kita memiliki potensi tersebut,” tandasnya. (*/aro/ce1)