Pembangunan Infrastruktur di Kota Semarang

622
URAI KEPADATAN LALIN: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersama Kepala Dinas Bina Marga Iswar Aminnudin didampingi Kabid Pemanfaatan Jalan dan Jembatan Sukardi, sedang meninjau lokasi pembangunan jalan Tembus Kartini-Gajah. (Rizal Kurniawan/Radar Semarang)
URAI KEPADATAN LALIN: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersama Kepala Dinas Bina Marga Iswar Aminnudin didampingi Kabid Pemanfaatan Jalan dan Jembatan Sukardi, sedang meninjau lokasi pembangunan jalan Tembus Kartini-Gajah. (Rizal Kurniawan/Radar Semarang)
URAI KEPADATAN LALIN: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersama Kepala Dinas Bina Marga Iswar Aminnudin didampingi Kabid Pemanfaatan Jalan dan Jembatan Sukardi, sedang meninjau lokasi pembangunan jalan Tembus Kartini-Gajah. (Rizal Kurniawan/Radar Semarang)
 DIKEBUT: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat meninjau pembangunan kolam retensi Muktiharjo yang masih dalam tahap penyelesaian. (Rizal Kurniawan/Radar Semarang)

DIKEBUT: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat meninjau pembangunan kolam retensi Muktiharjo yang masih dalam tahap penyelesaian. (Rizal Kurniawan/Radar Semarang)

Sebagai pintu gerbang dan ibukota Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang banyak dikenal dengan tempat wisata dan ragam kulinernya. Namun, disisi lain kota ini juga sering dikenal dengan sebutan kota banjir atau kota genangan. Kondisi topografi Kota Semarang memiliki landscape yang unik terdiri dari dataran rendah, dataran tinggi, perbukitan, hingga daerah pantai. Kondisi tersebut selain sebagai keistimewaan juga menjadi tantangan mengingat adanya permasalahan alam yang tak dapat dihindarkan yaitu rob dan banjir. “Berbagai upaya penanganan rob dan banjir pun terus kami lakukan, dan Alhamdulillah sedikit demi sedikit masalah ini mulai teratasi,” terang Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Sejumlah upaya konkrit yang dilakukan Pemkot Semarang untuk mengatasi masalah rob dan banjir diantaranya membangun bendungan/dam. Seperti waduk Jatibarang. Bendungan terbesar di Kota Atlas tersebut mulai dibangun pada tahun 2010 sampai 2013. Selain itu juga membuat dam Diponegoro dengan potensi Embung di 18 titik. Pembangunan sudah dilakukan sejak 2009 dan akan berakhir pada 2015 mendatang. Normalisai Banjir Kanal Barat pada tahun 2010 hingga 2013 dengan total dana mencapai Rp 400 miliar. Tidak hanya Banjir Kanal Barat saja yang menjadi perhatian pemkot, normalisasi serupa juga akan dilakukan untuk Banjir Kanal Timur, proses Larap akan dilakukan pada 2015. Kemudian normalisasi Kali Beringin dengan tanah yang sudah dibebaskan mencapai 14,5 Ha.

“Selain itu, pemkot melalui Dinas PSDA dan ESDM pun terus memaksimalkan sistem pompa dan drainase yang ada. Saat ini, 94 pompa dan 34 rumah pompa yang kami miliki terus beroperasi guna menyelesaikan masalah genangan dan banjir yang ada,” terang wali kota yang akrab disapa Hendi ini.

Tak hanya melakukan perbaikan pembangunan fisik dan infrastruktur yang digenjot, upaya menggerakkan Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS) pada masyarakat pun diaktifkan. Dengan PHBS, masyarakat kami ajak untuk ikut aktif menjaga lingkungan, selokan dari sampah yang dapat menyebabkan genangan. Agenda rutin yang dilakukan diantaranya Resik-Resik Kali serta pengecekan pompa dan saluran melalui jalan sehat serta sepeda santai setiap Selasa dan Jumat. “Oleh karenanya, saat ini kami bersama seluruh stakeholder di Kota Semarang kompak dan sepakat untuk bersama-sama menjadikan Kota Semarang bukan lagi sebagai Kota Genangan tapi sebagai Kota Kenangan, yang salah satunya dapat dicapai dengan memprioritaskan program penanggulangan rob dan banjir. Hal ini sejalan pula dengan semangat Sapta Program dan Semarang Setara,” tegas wali kota.

Kemajuan yang paling menonjol di Kota Semarang selain di bidang infrastruktur, adalah berkurangnya intensitas banjir yang dulu kerap menjadi momok bagi masyarakat Kota Semarang. Hal itu merupakan wujud komitmen penanganan banjir yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang bersama para pemangku kepentingan.

Upaya penanggulangan rob dan banjir tersebut diantaranya pembangunan Polder Banger, normalisasi Banjir Kanal Barat, pembangunan waduk Jatibarang, normalisasi Kali Tenggang serta peningkatan sejumlah saluran seperti Kali Es, Pasar Johar, MT. Haryono, kawasan Bubakan, Jalan Agus Salim, kawasan Simpang Lima, Jalan Imam Bonjol, pembangunan long storage di kawasan Kampung Kali, dan lainnya. “Selain itu, kami pun terus memaksimalkan sistem pompa dan drainase yang ada. Saat ini, 94 pompa dan 35 rumah pompa serta optimalisasi kolam retensi yang kami miliki terus beroperasi guna menyelesaikan masalah genangan dan banjir yang ada,” tandasnya.

Pemerataan infrastruktur jalan juga telah dilakukan pemkot guna memberi kenyamanan para pengguna jalan dan mengurai kepadatan arus lalu lintas, seperti membangun jalan tembus Kartini-Gajah, peningkatan Jalan Woltermonginsidi,
Tak hanya dari sisi infrastruktur langkah konkrit yang juga harus terus dilakukan adalah membangun lingkungan kondusif dan ramah terhadap alam. Oleh karena itu, pemkot banyak membangun serta menghidupkan kembali ruang terbuka publik. “Saat ini kami memiliki 233 Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan terus mengembangkan pembangunan taman kota baru seperti taman Sampangan, taman Rejomulyo, taman Tirto Agung, taman Pandanaran, taman Jatisari, serta taman Lalu Lintas Mangkang. Selain itu, direncanakan Hutan Kota di Mijen,” ungkap wali kota.

Secara otomatis dengan banjir dan rob yang sedikit demi sedikit tertangani, kenyamanan dalam beraktivitas di Kota Semarang bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat Kota Semarang maupun dari luar Kota Semarang. Semua aktivitas baik untuk hunian, wisata, usaha, belajar maupun berkreasi dapat berjalan lancar dan nyaman. (humas 02)