60 Persen Warga Jateng Lulusan SD

153
SANJUNG PERAN IBU : Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko dan Bupati Kendal Widya Kandi Susanti dalam peringatan Hari Ibu di Pendopo Kantor Bupati Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
SANJUNG PERAN IBU : Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko dan Bupati Kendal Widya Kandi Susanti dalam peringatan Hari Ibu di Pendopo Kantor Bupati Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
SANJUNG PERAN IBU : Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko dan Bupati Kendal Widya Kandi Susanti dalam peringatan Hari Ibu di Pendopo Kantor Bupati Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL—Kesadaran masyarakat Jateng akan kebutuhan pendidikan ternyata masih rendah. Terbukti dari jumlah penduduk Jateng sekitar 32.380.687 jiwa, sebesar 60 persen atau sebanyak 19.428.412 jiwa hanya lulusan sekolah dasar (SD).
Demikian dikatakan Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko di sela Peringatan Hari Ibu dan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional yang digelar di Pendopo Kantor Bupati Kendal, Rabu (24/12). Menurutnya, persoalan pendidikan di Jateng harus mendapatkan perhatian yang serius dari semua pihak.

“Kenyataan pendidikan yang masih rendah ini tentunya menjadi keprihatinan bersama. Tidak hanya penduduk laki-laki tapi juga perempuan, pendidikannya harus ditingkatkan. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah tapi seluruh elemen masyarakat untuk terus mendorong generasi muda agar terus bersekolah,” kata Heru.

Persoalan ini salah satunya bisa diatasi dengan peran ibu dalam keluarga. Yakni dengan mendorong anak-anaknya dan memberikan motivasi dan dukungan penuh agar anak-anaknya bisa sekolah. Sebab, kebutuhan pendidikan bukanlah sesuatu hal yang dapat ditawar. Pendidikan menjadi suatu keharusan agar masyarakat siap menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang.

Peran ibu menurutnya adalah pilar utama dalam keluarga. Sehingga memiliki beban berat yang harus ditanggungnya. Baik mengurus kecukupan rumah tangga, mengurus suami dan anak-anak.

“Ibarat kata, seorang ibu itu harus bangun sebelum matahari terbit dan tidur setelah mata suami terbenam, jadi sangat berat sekali. Beratnya tugas seorang ibu, sehingga jika ada seorang ibu yang berkarya dan berprestasi, merupakan sesuatu hal luar biasa,” tuturnya.

Namun dalam sejarah Indonesia, perempuan merupakan sesuatu hal luar biasa. Sebab pahlwan tidak hanya laki-laki saja, tapi juga perempuan. Lebih mengagumkan lagi Indonesia pernah dipimpin presiden perempuan dan sekarang ini banyak bermunculan perempuan tampil sebagai kepala daerah.

Menuturnya hal ini sesuatu yang luar biasa, bahkan di negara-negara maju yang sudah menjunjung tinggi hak dan perempuan memiliki kesempatan yang sama belum pernah ada presiden terpilih menjadi presiden. Negara Amerika Serikat misalnya yang sudah lebih 200 tahun merdeka dan menganut demokrasi, belum pernah ada perempuan yang berhasil menjadi presiden.

Bupati Kendal Widya Kandi Susanti menegaskan seorang ibu memang memiliki peran untuk mendorong generasi muda agar terus berkarya untuk Indonesia yang lebih baik di masa yang datang. “Perempuan itu kan lebih teliti, jadi hal sekecil apapun diperhatikan,” tandasnya.

Karenanya kaum ibu harus lebih semangat, aktif dan kreatif untuk menghadapi pasar bebas ASEAN. “Perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, jadi harus bisa menunjukkan bahwa perempuan setara,” katanya. (bud/ric)