DEMAK- Pengadaan obat-obatan di lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Demak disorot Fraksi Amanat Demokrat. Juru bicara fraksi, Farodli mengungkapkan, anggaran obat-obatan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan anggaran penyuluhan masyarakat berpola hidup sehat. Anggaran pengadaan obat mencapai Rp 4,6 miliar. Sedangkan, penyuluhan hidup sehat hanya Rp 589 juta.

“Apa masyarakat Demak bisa sembuh hanya dengan obat-obatan itu,” tanya Farodli. Mestinya, kata dia, penyuluhan hidup sehat lebih diintensifkan sehingga hidup sehat menjadi pegangan warga dalam mempengaruhi kualitas hidupnya. Dengan demikian, itu untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap obat atau hidup sehat tanpa obat.

“Jadi, masyarakat tidak harus minum obat bila pola hidup sehat ini digalakkan,” katanya. Apalagi, kata dia, penduduk Demak mencapai 1,2 juta orang sehingga perlu dibebaskan dari ketergantungan obat.

Kepala Dinkes, dr Iko Umiyati menjelaskan, dana persediaan obat itu dihitung dari jumlah kunjungan rawat inap dan rawat jalan di Puskesmas kemudian dikalikan dengan harga resep obat sebesar Rp 10 ribu per orang. Karena itu, dengan adanya kunjungan sebanyak 1.002.714 orang pasien, maka secara keseluruhan kebutuhan obat untuk satu tahun minimal Rp 10 miliar.

Dengan demikian, alokasi anggaran Rp 4,6 miliar itu masih kurang dari kebutuhan. Adapun kekurangannya dicukupi dari buffer stock tahun sebelumnya. “Untuk alokasi dana penyuluhan memang masih sangat kurang. Namun, ada dana pendampingan dari APBN melalui program bantuan operasional kesehatan (BOK) dengan tujuan untuk percepatan tercapainya MDGs ditahun 2015,” katanya. (hib/ric)