Nelayan Tak Nikmati Menguatnya Dollar

208
KOMODITAS EKSPOR : Bupati Demak Dachirin Said didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Hari Adi Susilo melihat langsung pengupasan daging rajungan di Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang. (Wahib pribadi/radar semarang)
 KOMODITAS EKSPOR : Bupati Demak Dachirin Said didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Hari Adi Susilo melihat langsung pengupasan daging rajungan di Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang. (Wahib pribadi/radar semarang)

KOMODITAS EKSPOR : Bupati Demak Dachirin Said didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Hari Adi Susilo melihat langsung pengupasan daging rajungan di Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang. (Wahib pribadi/radar semarang)

DEMAK- Nelayan rajungan di Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang mestinya bisa menikmati kenaikan nilai tukar dollar AS terhadap Rupiah. Namun, hal itu tidak terjadi lantaran negara tujuan eskpor daging rajungan tidak terlalu bernafsu menerima pasokan dari nelayan Indonesia, termasuk dari Demak.

Pengusaha rajungan, Mujib, mengungkapkan, isu yang berkembang sekarang ini, daging yang diekspor ke AS bercampur dengan daging kepiting. “Akhirnya, kita terkena imbasnya. Mereka tidak mau menerima 100 persen. Ya, ini risiko karena yang diekspor oleh perusahaan ke AS tidak hanya dari Betahwalang saja. Namun dari berbagai daerah di Indonesia. Ada dari Kalimantan, Lampung hingga Papua. Daging rajungan itu dikumpulkan baru diekspor,” katanya, kemarin.

Menurut Mujib, rajungan nelayan Betahwalang ia pasok ke perusahaan ekspor di beberapa daerah. Bila sebelumnya ke sebuah pabrik atau perusahaan di Semarang dan Pemalang, sekarang ada juga yang dipasok ke perusahaan ekspor ke Rembang, termasuk ke Jepara. “Kita tinggal lihat perusahaan mana yang lebih berani mau membeli rajungan kita. Yang jelas, kalau rajungan kita dari Betahwalang murni daging rajungan semua. Tidak ada campuran,” ujarnya.

Menurut Mujib, saat musim sepi tangkapan, ia rata-rata memasok 1 ton daging rajungan. Sedangkan, saat ramai tangkapan, bisa sampai 3 ton rajungan. Ramai tangkapan rajungan ketika ombak dan angin kencang melanda perairan laut Demak. “Sekarang ombak sudah mereda hasil tangkapan rajungan pun menurun,” katanya.

Mujib menambahkan, daging rajungan harganya Rp 50 ribu per kilogram. “Di wilayah Betahwalang Bonang sendiri ada sekitar seribu kapal atau perahu dengan komposisi satu kapal dijalankan dua orang nelayan. Rata-rata bisa menghasilkan 8 kilogram per kapal per hari,” imbuh dia. Menjadi pengusaha rajungan sudah ditekuninya sejak 1998. Ia, kini memiliki 20 orang pekerja pengupas daging rajungan. Mereka berasal dari kampung sendiri, Desa Betahwalang.

Sementara itu, pengusaha alat Bobo, perangkap rajungan dari Desa Betahwalang, Mujahidin mengatakan, pihaknya bisa membuat 400 buah alat Bobo setiap dua hari sekali. Ada sekitar 15 hingga 25 pekerja yang membantu membuat alat tangkap tersebut. Alat-alat tangkap ramah lingkungan itu dijual ke para nelayan di berbagai daerah.

Antara lain, ke Kalimantan, Madura, Karimunjawa, Kendal, Rembang dan lainnya. “Permintaan cukup banyak. Sekarang, dari 400 alat tinggal 200 yang tersisa. Untuk luar daerah kita kirim via ekspedisi setelah transaksi lewat bank berhasil. Saya membuat alat Bobo ini sudah 15 tahun terakhir,” katanya.

Berkembangnya usaha daging rajungan ini memantik perhatian Bupati Dachirin Said. Bupati sempat meninjau kampung Betahwalang tersebut dan melihat langsung pembibitan hingga produksi, termasuk proses pengupasan daging rajungan. “Kita berharap, usaha ini bisa berkembang terus,” katanya. (hib/ric)