21 Rumah Ilegal Dibongkar Paksa

189
DIBONGKAR MANUAL: Tiga rumah warga yang menempati lahan PT Wijati Aji dibongkar paksa oleh Satpol PP Linmas Kota Semarang secara manual. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 DIBONGKAR MANUAL: Tiga rumah warga yang menempati lahan PT Wijati Aji dibongkar paksa oleh Satpol PP Linmas Kota Semarang secara manual. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

DIBONGKAR MANUAL: Tiga rumah warga yang menempati lahan PT Wijati Aji dibongkar paksa oleh Satpol PP Linmas Kota Semarang secara manual. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BONGSARI – Sebanyak 21 bangunan rumah di Kelurahan Bongsari, bakal dibongkar paksa oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Perlindungan Masyarakat (Satpol PP Linmas) Kota Semarang. Rumah tersebut dinilai ilegal lantaran tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) dan berdiri di lahan milik PT Wijati Aji.

Pembongkaran akan dilakukan secara bertahap. Sedangkan pada tahap awal, Senin kemarin (22/12), baru dibongkar tiga rumah secara manual. Pembongkaran dilakukan oleh puluhan petugas Satpol PP Linmas yang dipimpin Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat, Kusnandir.

Para pemilik rumah pun tidak berdaya, hanya bisa menyaksikan pembongkaran dengan sejumlah peralatan manual, seperti linggis, balok kayu, tongkat besi dan sebagainya.

Berdasarkan informasi di lapangan, warga sudah menempati lahan tersebut sejak belasan tahun silam. Mereka menempati lahan kosong milik PT Wijati Aji seluas sekitar 2.000 meter persegi. Sebelum pembongkaran paksa dilakukan, warga sudah mendapatkan surat peringatan untuk mengosongkan tempat. Bahkan pihak PT Wijati Aji juga telah memberikan tali asih kepada warga. Namun sampai batas waktu yang telah ditentukan, sebagian warga justru masih bertahan. Sehingga pemilik lahan meminta bantuan kepada Pemkot Semarang, dalam hal ini Satpol PP Linmas.

”Dalam kegiatan ini, kami membantu PT Wijati Aji selaku pemilik lahan. Dari data kepemilikan tanah, ada sekitar 2.000 meter persegi yang ditempati oleh warga tanpa izin pemiliknya. Di dalam lahan tersebut ada sekitar 21 kepala keluarga (KK) atau 21 bangunan rumah. Kami akan membongkar semua, tapi pagi ini yang dibongkar baru tiga rumah dulu. Selanjutnya dilakukan secara bertahap,” terang Kusnandir.

Dalam pembongkaran, lanjut Kusnandir, hanya bisa dilakukan secara manual. Ini karena aksesnya sempit tidak memungkinkan pembongkaran menggunakan alat berat. Menurutnya, pembongkaran sudah melalui beberapa tahapan bersama muspika setempat. Bahkan pihaknya juga sudah mengeluarkan surat peringatan kepada warga untuk segera meninggalkan lokasi dan melakukan pembongkaran sendiri.

”Mereka yang rumahnya digusur, sudah difasilitasi tinggal di Rumah Susun (Rusun) Karangroto, Genuk. Biaya sewa juga sudah dibantu pemilik lahan. Harapan kami, bagi yang sudah menerima ganti rugi ya membongkar sendiri rumahnya. Tapi kalau tetap tidak mau pindah, kami akan bongkar paksa. Prinsipnya kita melangkah sesuai prosedur,” tandasnya.
Sebagian besar warga memang sadar telah menggunakan lahan yang bukan miliknya. Sehingga mereka mau pindah dan akan menempati Rusun Karangroto. Di antaranya, Imam Waluyo, yang mengaku sudah menempati rumah di atas tanah milik PT Wijati Aji selama 9 tahun itu.

”Dulu saya beli tanah di sini walaupun harganya murah, saat itu masa reformasi. Tapi, ketika mengurus RT RW, dari pihak kelurahan tidak mengakui, karena tahu di sini (lahan) ada yang punya. Jadi sampai sekarang, permukiman di sini tidak ada RT-nya,” terang Imam.

Imam mengaku telah diberi uang tali asih sebesar Rp 7,5 juta, ditambah uang pendidikan Rp 500 ribu, dan biaya sewa rusunawa Rp 1 juta. ”Kalau ditotal ada Rp 9 jutaan. Saya sebenarnya sudah mau bongkar, tapi tenaganya tidak ada,” tandasnya. (zal/ida/ce1)