Warga Nekat Lewati Jalur Berbahaya

139
BERBAHAYA : Sejumlah warga terlihat nekat melintasi jalur berlumpur akibat proyek pembangunan jalan molor. (Faiz Urhanul Hilal/Radar Semarang)
 BERBAHAYA : Sejumlah warga terlihat nekat melintasi jalur berlumpur akibat proyek pembangunan jalan molor. (Faiz Urhanul Hilal/Radar Semarang)

BERBAHAYA : Sejumlah warga terlihat nekat melintasi jalur berlumpur akibat proyek pembangunan jalan molor. (Faiz Urhanul Hilal/Radar Semarang)

KAJEN- Akses jalan penghubung dua kecamatan di Kabupaten Pekalongan pasca bencana tanah longsor yang terjadi Februari 2014 lalu masih lumpuh. Proyek pembangunan jalan utama tersebut juga terancam molor.

Jalan utama tersebut terletak di Dukuh Gamblok, Desa Bojongkoneng, Kecamatan Kandangserang yang merupakan akses utama ke Desa Luragung, Kecamatan Kesesi serta Kabupaten Pemalang. Sedianya proyek tersebut selesai Desember 2014. Pantauan Radar Semarang di lokasi, proyek senilai Rp 1,7 miliar tersebut masih dalam tahap awal. Ini terlihat setelah adanya land clearing, medan jalan masih tertumpuk batu-batu. Sejumlah pekerja juga masih melakukan pemasangan kerangka untuk jembatan yang terletak di dasar tebing.

Seorang kontraktor pelaksana proyek jalan tersebut, Daryo, mengatakan, pengerjaan proyek tersebut terkendala perizinan dari Perhutani. Sehingga baru efektif dikerjakan sekitar bulan Oktober 2014. “Kendalanya ada faktor lelang serta perizinan dari Perhutani yang tidak turun-turun. Kami kerjakan ini Oktober kemarin,” ungkapnya saat ditemui di lokasi proyek.

Selain itu, dalam teknis pengerjaannya, proyek tersebut juga terkendala cuaca. Proyek pengerjaan jalan tersebut terletak di sebelah jalur awal yang terputus lantaran tanah longsor. “Pembangunan jalan tembusnya membuka lahan baru sekitar 300 meter dari titik longsor. Itu dilakukan agar kemudian jalan yang sudah dibangun juga tidak terkena longsor,” ungkapnya.

Terkait kendala cuaca, lanjutnya, yakni seringnya turun hujan yang mengakibatkan medan jalan berupa tanah menjadi berlumpur. Sejumlah upaya sudah dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut. Diantaranya mendatangkan sedikitnya tujuh orang pawang hujan. “Kalau turun hujan terus, di sini berat. Sudah ada tujuh pawang hujan saya datangkan. Tapi mereka tetap tidak kuat,” timpalnya. Tak pelak, lanjutnya, truk pengangkut material terpaksa berjalan mundur untuk mencapai dasar tebing, atau tepat lokasi dibangunnya jembatan penghubung.

Sementara itu, sejumlah warga masih menggunakan eks jalan yang terputus akibat longsor, meski lebar jalan berlumpur itu kurang dari 2 meter. Warga, terutama pengguna sepeda motor nekat menggunakannya untuk bebagai aktivitas. “Kalau memutar jauh sekali mas, ya memang ini jalan paling dekat,” ungkap Sukati, 50, pedagang yang terpaksa turun dari sepeda motor sembari anaknya menyeberang melewati kubangan lumpur.

Sementara itu Camat Kandangserang, Istiyanto mengatakan, proyek pembangunan jalan tersebut diperkirakan tidak akan selesai tepat waktu. “Proyek itu kemungkinan besar tidak akan selesai Desember ini,” ungkapnya.

Pihak Dinas Pekerjaan Umum, belum berkenan memberikan keterangan. Dari informasi yang dihimpun, terdapat sedikitnya empat proyek pengerjaan jalan yang terancam molor. Selain Jalan Gomblok-Luragung, proyek pengerjaan jalan lain juga terancam molor. Yakni Godas-Klesem, Cangkring-Gembong, Karangdowo-Tangkil. (mg8/ric)