Muh Zen Adv. (Ricky Fitriyanto/Radar Semarang)
Muh Zen Adv. (Ricky Fitriyanto/Radar Semarang)
Muh Zen Adv. (Ricky Fitriyanto/Radar Semarang)

GEDUNG BERLIAN – Penghentian Kurikulum 2013 oleh Mendikbud Dasmen Anies Baswedan disesalkan organisasi Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI) Jateng. Langkah tersebut dinilai menimbulkan kebingungan pada guru dan siswa dan membuat dunia pendidikan menjadi mundur.

Ketua PGSI Jateng, Muh Zen Adv mengatakan bahwa semestinya Mendikbud Dasmen Anis Baswedan tidak menghentikan Kurikulum 2013 (K13) di tengah jalan. Terlebih, saat ini seluruh satuan pendidikan sudah melaksanakan semua kurikulum tersebut. ”Semua jenjang sudah melaksanakan K13, mengapa harus berhenti sampai semester 1 saja? Mengapa yang eks RSBI tetap jalan?” ujar anggota Komisi E DPRD Jateng ini.

Dia mempertanyakan mengapa dalam Permendikbud 160 tahun 2014, hanya PAUD dan SLB saja yang boleh menerapkan K13. Sementara pendidikan dasar (Dikdas) dan pendidikan menengah (Dikmen) harus kembali ke Kurikulum 2006. Padahal menurutnya, K13 justru sesuai dengan visi-misi kebijakan Jokowi-JK soal perlunya revolusi mental.

”Bukankah K13 justru lebih mengedepankan aspek spiritualitas dan nilai sosial. Mengapa harus kembali ke K2006 yang hanya menekankan aspek kognitif? Mengapa persoalan kesiapan dan kemampuan guru dijadikan alasan harus kembali ke K2006? Ada kepentingan politik dan bisnis apakah sesungguhnya?” tanyanya.

Menurutnya menghentikan K13 di tengah jalan sama halnya dengan mengamputasi kaki patah, tapi tidak paham anatomi tubuh. Dia menilai hal tersebut akan menimbulkan kebingungan guru dan siswa, disparitas pendidikan yang luar biasa serta akan semakin jauh mundur ke belakang pendidikan kita.

”Jangan karena persoalan teknis distribusi buku dan guru yang sebagian belum siap, lalu dihentikan K13. Ini sama saja dengan kembali menyerahkan penilaian siswa kepada guru yang selama ini hanya dengan nilai angka tanpa memperhatikan aspek yang lain,” tandasnya. (ric/ida/ce1)