SEMARANG – Permintaan baja ringan untuk rangka atap rumah kian bertambah. Pertumbuhannya mencapai 50 persen per tahunnya.

Peluang ini membuat produsen baja ringan semakin menjamur. Merekapun meraup keuntungan yang terus meningkat. “Tahun lalu omzet kami Rp 5 miliar, tahun ini diperkirakan tembus hingga Rp 8 miliar,” ujar Titien Martini, penyedia rangka atap baja ringan Tiara Truss, kemarin (21/12).

Menurut Titien, minimnya kayu di pasaran membuka peluang baja ringan sebagai alternatif rangka atas. Bahan yang berupa baja dilapis alumunium juga memberikan kelebihan anti karat, anti korosi serta anti rayap. “Saat ini memang dikeluhkan susah mencari kayu, karena itu baja ringan kian diminati. Mulai dari rumah sederhana hingga rumah mewah. Bahkan, belum lama ini beberapa rumah di pinggiran, seperti Purwodadi, Ambawara juga mulai menggunakan baja ringan,” ujarnya.

Untuk harga, baja ringan dibagi berdasarkan ketebalan. Mulai 0,45 milimeter, 0,6milimeter, 0,7 mililemeter, hingga 0,75 milimeter. Untuk permintaan terbanyak, berada pada ukuran 0,75 milimeter. Khusus ukuran tersebut, per bulan ia bisa menjual antara 8 ribu hingga 10 ribu batang. “Bila dibandingkan dengan kayu, baja ringan lebih murah,” jelasnya.

Namun demikian, semenjak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, harga baja ringan pun menyesuaikan. “Harga memang naik, tapi permintaan tidak turun. Karena memang saat ini pertumbuhan perumahan sedang baik dan rangka atas baja ringan ini sedang diminati. Meskipun akibat kenaikan harga, pada wal bulan Desember kami sempat kewalahan mencari bahan baku,” katanya. (dna/smu)