Kini, 3 KK Masih Numpang

177
MEMPRIHATINKAN : Salah satu warga Deliksari yang rumahnya reyot, kayunya lapuk dan bocor semua. (M HARIYANTO/RADAR SEMARANG)
  MEMPRIHATINKAN : Salah satu warga Deliksari yang rumahnya reyot, kayunya lapuk dan bocor semua. (M HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

MEMPRIHATINKAN : Salah satu warga Deliksari yang rumahnya reyot, kayunya lapuk dan bocor semua. (M HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

TIGA kepala keluarga (KK) RT3 RW6 warga Deliksari, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati terpaksa mendirikan bangunan di atas lahan milik tetangganya. Hal ini dilakukan lantaran tempat tinggalnya roboh diterjang bencana tanah longsor saat musim penghujan.

RW6 Deliksari terdiri atas 6 RT dengan jumlah penduduk mencapai 700-800 jiwa dengan 225 KK. Kampung tersebut berada di pinggir jalan tanjakan arah Kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) atau satu kilometer pertama dari jembatan Besi Sampangan. Kampung yang letaknya di bawah pinggir jalan tersebut merupakan daerah perbukitan yang dekat dengan sungai.

Akses jalan menuju Kampung Deliksari cukup terjal, naik turun dan berkelok dengan lebar jalan yang sempit. Diperkirakan hanya lebar 2,5 meter yang terbuat dari paving yang letaknya sudah tidak saling sama rata. Kendaraan roda empat yang masuk ke kampung tersebut juga kesulitan, lantaran akses jalan yang tidak memungkinkan.

Selain itu, Kampung Deliksari RW6 ini terbilang rawan bencana. Terbukti, dalam setiap musim penghujan, kampung tersebut kerap dilanda bencana tanah longsor. Kampung dengan jumlah 6 RT ini, rumah warganya kebanyakan berada di atas tanah yang kurang stabil.

”Hampir semua rumah penduduk di setiap RT rawan bencana. Terlebih pada RT 3, RT 4 dan RT 6. Bahkan dalam musim penghujan tahun kemarin, 3 rumah di RT 3 roboh karena terkena bencana tanah longsor yang melanda pada malam hari. Warga tidak tahu. Beruntung tidak menimbulkan korban jiwa,” ungkap Ketua RW6 Deliksari, Supangat kepada Radar Semarang, kemarin.

Kini, 3 bangunan rumah yang roboh akibat tanah longsor telah mendirikan bangunan rumah di atas lahan milik orang lain. Sebab, tiga KK yang rumahnya terkena bencana longsor tidak memiliki lahan lagi dan biaya untuk mendirikan bangunan di daerah lain.

”Warga kami terbentur ekonomi. Rata-rata bekerja sebagai penarik becak, pemulung dan sopir. Sumber daya manusia (SDM)-nya terbilang rendah. Jadi bangun rumahnya dititipkan dulu di tanah tetangganya. Pemiliknya juga tidak keberatan. Memang masih banyak rumah warga yang letaknya sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.

Penduduk RT3 terdapat 39 KK dengan jumlah rumah mencapai 35 bangunan. Hanya saja bangunan ini bervariasi. Masih ada yang semipermanen dan sudah permanen. Bahkan, untuk bangunan semipermanen, merupakan warga tidak mampu yang mencapai 20 KK lebih.

”Kalau warga RT4 ada 5 KK yang tidak mampu dari total 31 KK. Sedangkan jumlah rumah 25 bangunan. RT 6 ada 26 KK, jumlah bangunan 20 rumah. Sedangkan yang tidak layak 14 bangunan rumah. Kedua RT ini juga rawan longsor. Memang, kampung kami dekat dengan sungai dan dikelilingi oleh sungai,” katanya.‪

Meskipun daerah tersebut merupakan tanah perbukitan, ironisnya, Kampung Deliksari tidak memiliki sumber mata air. Bahkan sendang satu-satunya di kampung tersebut sudah berkurang debit airnya. Sebab, sudah banyak berdiri bangunan. Akibatnya, warga banyak yang kekurangan air, meskipun musim penghujan.

”Kalau musim hujan saja, warga banyak yang menggunakan tandon air dari talang rumahnya. Apalagi musim kemarau, warga banyak yang kekurangan air. Bahkan, pernah ada yang mencoba mengebor tanah untuk membuat sumur, namun tidak menemukan sumber air. Di sini merupakan tanah berkerikil, sulit mendapatkan sumber mata air,” terangnya.

Diakuinya, sebenarnya warga Deliksari RW 6 akan dipindah ke daerah lain oleh pemerintah. Namun, hal itu kurang mendapat respons dari warga dengan alasan pemindahan tempat yang nantinya akan ditempati warga kurang jelas. Warga merasa khawatir, tempat tersebut menimbulkan permasalahan di kemudian hari.

”Dulu ada rencana relokasi dan sudah ada rapat khusus di atas lahan bengkok. Hanya saja, dari kelurahan tidak boleh ditempati untuk perorangan. Selain itu, sekitar tahun 2012 juga ditawari tukar guling oleh pemerintah mau dipindah di Kelurahan Pakintelan, Gunungpati. Tapi warga yang rumahnya sudah permanen keberatan. Karena status tanah belum jelas. Takut nantinya terkena penggusuran. Sebab yang sudah permanen sudah memiliki sertifikat. Kalau rumahnya yang belum permanen mau saja,” tuturnya.

Dalam menghadapi musim penghujan seperti sekarang ini, pihaknya bersama warga telah berupaya mengantisipasi bencana longsor seperti sebelumnya. Dengan mengimbau warga supaya setiap rumahnya memiliki talang air dan saluran air.

”Kalau rumahnya ada talangnya dan saluran air, jatuhnya air bisa langsung ke dalam saluran. Kalau tidak seperti itu, air nantinya bisa menggerus pada bagian pondasi rumah. Pada intinya saya bersama warga saling bergotong royong melakukan pembenahan saluran air. Karena kondisi tanah sangat rawan bencana. Kami juga melakukan penghijauan di lingkungan kami,” paparnya.

Warga RT3, Kasiman, 60, mengakui kerap tidur di teras rumahnya pada saat hujan deras turun. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya bencana longsor yang mengancam keselematannya setiap saat. Sebab, kondisi rumahnya sudah tidak layak. Bahkan tempat tinggalnya hampir bisa dikatakan sebuah gubuk.

”Rumah saya ya seperti ini, dalamnya bocor semua. Tiang rumah juga kondisinya sudah lapuk dimakan usia. Jadi kalau hujan deras ya tidur di depan rumah. Mau memperbaiki rumah, tidak punya biaya. Bahkan tidak mendapat bantuan mulai dari BLSM sampai sekarang ini,” ungkap pria yang hidup sendirian ditinggal istrinya.

Hal sama diakui, warga RT4, Partini, 46. Tempat tinggalnya juga hampir roboh pada saat musim penghujan kemarin. Menurutnya, kondisi rumah yang ditempatinya berada di perbukitan dan tanahnya sangat labil.

”Rumah saya berada di tanjakan. Kalau hujan deras, tanahnya longsor. Saya juga khawatir, kalau musim penghujan terjadi bencana tanah longsor seperti tahun sebelum-seblumnya,” katanya.

Pihaknya berharap, pemerintah memperhatikan warga kampung Deliksari RW 6. Meskipun pemerintah juga memberikan bantuan ketika daerah tersebut terkena musibah bencana, namun warga tetap berharap pemerintah memberikan bantuan biaya pembangunan infrastruktur jalan. Supaya akses mobil bisa masuk ke dalam kampung.

”Dulu pernah ada bantuan air dari PDAM untuk warga kami. Namun rencana itu diurungkan sopirnya, lantaran mobilnya tidak bisa menjangkau masuk ke dalam kampung kami. Sebab jalannya sangat sempit. Apalagi ditambah terjalnya jalan yang tajam naik turun. Harapan saya, pemerintah juga membangunkan sanitasi air bersih, sarana jalan dan saluran serta meningkatkan kesejahteraan warga,” pungkas Supangat. (mha/ida/ce1)