Ingin Temui Teman SMA, Tidurnya di Musala

232
SEMANGAT: Jaya Prawira menunjukkan dokumen foto dan kenang-kenangannya saat menjadi pejabat di dinas kehutanan, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
SEMANGAT: Jaya Prawira menunjukkan dokumen foto dan kenang-kenangannya saat menjadi pejabat di dinas kehutanan, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
SEMANGAT: Jaya Prawira menunjukkan dokumen foto dan kenang-kenangannya saat menjadi pejabat di dinas kehutanan, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

Jaya Prawira, usianya sudah senja, 71 tahun. Tapi semangatnya berkeliling nusantara mengalahkan semangat anak-anak muda. Seperti apa?

MUKHTAR LUTFI, Mungkid

HUJAN rintik membasahi sepanjang jalan Magelang-Purworejo, kemarin. Jaya Prawira masih terus mengayuh sepedanya. Dengan helm, jaket dan celana parasut hujan seperi tak mengganggunya.

Dengan sedikit terengah dia mulai menghentikan sepedanya. Sepertinya tanjakan di perbatasan Kabupaten Purworejo menuju Kabupaten Magelang dengan kemiringan 45 derajat membuatnya sadar usianya tak mungkin bisa melewatinya. Pria berusia 71 tahun ini memutuskan turun dan mendorong sepedanya.

Panjang tanjakan kira-kira 1 kilometer. Beberapa kali Jaya berhenti mengambil napas. Sesekali dia membasahi tenggorokannya dengan air mineral.

Usia memang tidak bisa dibohongi. Begitu melewati tanjakan, dia lantas duduk untuk waktu yang lama. Sesekali dia memijit kakinya sendiri.

Pria asal Banten itu mengayuh sepeda sejak 22 September lalu dari rumahnya. Dia menjelajahi satu per satu kota di Provinsi Banten. Dia berkunjung ke orang kantor pemerintahan yang masih ada hubungan emosional saat menuntut ilmu di Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) Bogor.

“Setiap daerah yang saya kunjungi, saya minta tanda tangan dan cap dari pimpinan daerah tersebut. Tanda tangan bupati atau wali kota, ketua DPRD, dan dari pejabat kehutanan seperti asper ini kemudian saya bukukan sebagai kenang-kenangan,” tuturnya.

Hingga kemarin sudah terkumpul cukup banyak tanda tangan dan cap daerah di beberapa provinsi. Seperti Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Dalam perjalanan sejak 22 September lalu, pria kelahiran 4 agus 1943 ini sudah menempuh jarak hingga perbatasan Jawa Barat sekitar 1.400 km. Dengan target Jawa – Bali sejauh 5 ribu km. Maka diperkirakan perjalanan masih kurang 3.500 km lagi.

“Saya itu saat di jalan tidak terburu-buru. Sehari bisa menempuh 60-70 km. Seperti saat dari Subang ke Lembang membutuhkan waktu sekitar 10 jam dan Sumedang-Garut sekitar 11 jam. Untuk di tanjakan tidak saya kayuh tapi tuntun,” ucapnya.

Rencananya, kakek tujuh anak dan 12 cucu ini ingin terus melaju mengelilingi Indonesia dengan sepedanya. Dia memperkirakan butuh dua bulan lagi sampai Denpasar. Kemudian NTT dan NTB satu bulan. Sementara Pulau Sulawesi 3 bulan, Kalimantan 4 bulan, Sumatra 7 bulan. Dan kembali lagi ke Banten itu dari 1,5 tahun hingga 2 tahun mendatang.

Ketika sampai di Pulau Bali nanti, dia hendak mendaftarkan diri ke MURI. Yakni dengan kategori perjalanan panjang menggunakan sepeda dengan usia lanjut. “Yang penting itu berpikir sehat, awet muda. Jalani hidup ini dari hari per hari saja,” katanya.

Setiap hari, perjalanan dimulai pagi lalu berhenti pukul 16.00. Untuk hari Sabtu Minggu biasanya digunakan untuk istirahat dan mencuci pakaian yang dibawanya.

“Dalam perjalanan ini saya nginap di rumah teman alumni SKMA. Kadang kantor Perhutani juga musala. Saya sembarang saja kalau tidur, karena membawa kantong tidur juga,” jelasnya.

Dia mengaku, niat keliling Indonesia itu tidak lain hanya untuk silaturahmi menggunakan sepeda mengunjungi rekan-rekanya dulu di SKMA. Bermodal jiwa korsa rekan-rekanya di SKMA yang tinggi, dia yakin akan dibantu berkeliling nusantara.

Pakaian yang dibawa pun seadanya. Selain itu juga membawa ban cadangan dan kunci-kunci. “Saya berbekal baju dan uang seadanya saja, karena memang yang mendukung ini rekan-rekan SKMA. Kami mempunyai persatuan dengan nama Rimbawan. Mereka mendukung saya di tiap kota,” ungkapnya.

Suami dari Meli G Binti ini merupakan pensiunan PNS di lingkungan Kehutanan. Dia menjadi PNS pada 1964 lalu dengan tugas pertama di Dinas kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah.

Jabatan yang pernah dia emban yakni Kabag Kesatuan Pemangku Hutan dan terakhir menjabat sebagai kasubdin. Kemudian pada tahun 2.000 lalu, dia telah pensiun.

“Anak saya itu tujuh tersebar di berbagai provinsi. Sementara cucu saya ada 12. Mereka tinggal di berbagai kota seperti Jakarta, Banjarmasin, Bandung, dan Malang. Jadi pada setiap kota yang ditempati anak, saya bisa mampir,” jelasnya.

Setelah istirahat cukup lama, dia kembali melanjutkan perjalanan panjangnya. Terakhir dia berpesan supaya semangat anak muda untuk berjuang meraih mimpi tak boleh sirna. “Kalau jatuh bangun lagi. Kalau menyerah semua selesai,” tegas dia. (*/lis)