Banyak Bibit Unggulan, Minim Dukungan

118
BERPOTENSI: Minimnya even grasstrack di Salatiga, membuat para pembalap yang berpotensi sulit berkembang. Sejumlah pembalap menunjukkan aksinya dalam Kejurda Grasstrack se Jawa Tengah di sirkuit grasstrack Pabelan, Minggu (21/12). (Munir Abdillah/Radar Semarang)
BERPOTENSI: Minimnya even grasstrack di Salatiga, membuat para pembalap yang berpotensi sulit berkembang. Sejumlah pembalap menunjukkan aksinya dalam Kejurda Grasstrack se Jawa Tengah di sirkuit grasstrack Pabelan, Minggu (21/12). (Munir Abdillah/Radar Semarang)
BERPOTENSI: Minimnya even grasstrack di Salatiga, membuat para pembalap yang berpotensi sulit berkembang. Sejumlah pembalap menunjukkan aksinya dalam Kejurda Grasstrack se Jawa Tengah di sirkuit grasstrack Pabelan, Minggu (21/12). (Munir Abdillah/Radar Semarang)

SALATIGA–Banyak pembalap grasstrack berbakat di Salatiga, tapi ironisnya potensi itu tidak ditunjang dengan even-even grasstrack. Sehingga para pemilik bakat grasstrack di kota dingin ini sulit untuk berkembang. Mereka lebih memilih mengembangkan diri ke daerah lain yang memang lebih maju balapan grasstracknya.

“Sebenarnya di Salatiga banyak pembalap grasstrack senior yang disegani daerah lain, tapi ya itu, sayangnya untuk mendukung bakat pembalap sangat minim, jarang ada even-even grasstrack,” tutur Toyib ketua penyelenggara Kejurda Grasstrack se Jawa Tengah di sirkuit grasstrack Pabelan, Minggu (21/12).

Toyib mengatakan, kegiatan yang diikuti oleh 25 tim dari pelosok Jawa Tengah adalah sebagai sarana untuk mencari bibit-bibit pembalap. Lomba ini ada beberapa kelas, nanti yang mendapat juara umum akan kami bawa ke lomba lebih tinggi. Paling tidak akan dijadikan pembalap grasstracknya jawa tengah. “Salatiga sudah lama tidak ada lomba grasstrack, padahal di Salatiga ada pembalap grasstrack kondang yaitu Akbar Putra. Dan juga banyak pembalap senior lainnya. Kan sangat disayangkankan padahal dari Akbar, dapat membentuk pembalap-pembalap yang akan mengharumkan nama salatiga,” tutur Toyib.

Toyib menambahkan, jika lomba ini diikiuti oleh pembalap rata-rata berumur 10 tahun sampai 15 tahun. Karena pendidikan dari usia tersebut dapat membentuk mental pembalap kemudian hari. Kami juga akan terus melakukan pelatiha-pelatihan kepada pembalap junior yang berpotensi.”Memang kendala paling signifikan adalah dana. Tidak ada fasilitas untuk pembalap yang berpotensi. Mereka lebih banyak dari orang yang berkemampuan materi. Padahal pembalap dari kalangan menengah ke bawah banyak juga yang bagus,” terang Toyib. (mg14/zal)