13 Paralimpian Diboyong ke Perpanas

90
PRESTASI: Kabid Keolahragaan Dinpora Jateng Effendi Hari (kiri) berfoto bersama para juara Peparpeda Jateng 2014. (NURCHAMIM/RADA SEMARANG)

 PRESTASI: Kabid Keolahragaan Dinpora Jateng Effendi Hari (kiri) berfoto bersama para juara Peparpeda Jateng 2014. (NURCHAMIM/RADA SEMARANG)

PRESTASI: Kabid Keolahragaan Dinpora Jateng Effendi Hari (kiri) berfoto bersama para juara Peparpeda Jateng 2014. (NURCHAMIM/RADA SEMARANG)

SEMARANG – Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (Peparpeda) atau Pekan Olahraga Pelajar Cacat Daerah (Popcada) Jateng yang digelar 17-20 Desember kemarin memunculkan 13 atlet untuk didaftarkan dalam skuad Jateng ke ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas 2015 mendatang. Seluruh atlet terpilih rata-rata dari cabang atletik. Selanjutnya, mereka akan ditempa lagi agar lebih greget ketika bermain di ajang nasional tersebut.

Kepala Bidang Keolahragaan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Jateng Effendi Hari saat penutupan Popcada di Universitas Semarang (Unnes) kemarin mengatakan, selain 13 atlet tersebut, pihaknya juga menetapkan sebanyak 6 atlet paralimpik atletik akan dimasukkan ke Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP). Direncanakan, PPLP paralimpik akan dimulai 2015 mendatang.

Tampil sebagai juara umum Popcada I Jateng adalah Kabupaten Temanggung dengan perolehan 7 medali emas, 7 perak dan 1 perunggu. Di peringkat dua diduduki Kabupaten Karanganyar dengan 6 medali emas, 7 perak, dan 4 perunggu. Sementara Kota Surakarta yang memborong emas terbanyak harus berada di peringkat tiga yakni dengan 9 emas, dan 1 perunggu. Penentuan peringkat di Popcada memang dihitung dengan sistem poin.

Kota Semarang sendiri sebagai tuan rumah terperosok di peringkat 7 yang hanya menyabet 2 emas, 2 perak, dan 3 perunggu. Effendi Hari mengatakan, atlet berpotensi dari Semarang masih belum dikeluarkan secara maksimal. “Banyak orangtua di kota-kota besar seperti Semarang yang justru menyembunyikan anak mereka yang difabel. Mereka masih kurang pede. Berbeda dari kontingen dari daerah yang mengirimkan banyak pasukan. Entah menang-kalah, mereka tidak malu jika punya anak difabel,” ungkapnya.

Sementara, kontingen dari Kabupaten Boyolali mengaku bangga mengikuti event ini. Dengan hanya berkekuatan 7 atlet, Boyolali mampu merebut 1 medali emas dan 4 perak dari cabang olahraga atletik nomor lari 100 meter, balap kursi roda, dan tolak peluru. Marso, sang pelatih tidak menyangka atlet didikannya bisa tampil optimal. Padahal, paralimpian itu hanya berlatih selama tiga hari saja. “Waktunya ini kan mepet, kebetulan beberapa minggu kemarin pas Ujian Akhir Semester (UAS), jadi cuma dapat tiga hari latihan efektif,” cetusnya. (mg16/smu)

Silakan beri komentar.