Kegagalan Pendidikan Akhlak

277

KASUS bullying atau kekerasan di kalangan siswa dikarenakan perilaku siswa yang kini lebih berani. Menurut Sosiolog Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Dr Tri Marhaeni Pudji Astuti MHum, tindakan tersebut didorong dari peran orang tua yang selalu mendidik dengan kekerasan.

”Anak sekarang, kalau dilarang malah melakukan. Hal tersebut dikarenakan masih banyaknya orang tua yang mendidik anak menggunakan cara kekerasan,” ujarnya kepada Radar Semarang.

Hal tersebut mendorong anak untuk melakukan tindakan-tindakan negatif. Di antaranya, kerap mem-bully terhadap sesamanya.

Menurut Tri, hal itu tidak seratus persen menyalahkan siswa. Sebab, sifat dan tingkah laku anak mencerminkan didikan dari keluarga dan lingkungan.

Dikatakan, perilaku siswa tersebut mencerminkan kegagalan pendidikan akhlak orang tua di rumah, dan besarnya pengaruh lingkungan, seperti media televisi serta dunia hiburan lainnya.
Mengingat pendidikan adalah ilmu normatif, kata dia, maka fungsi institusi pendidikan, yakni menumbuhkan etika dan moral anak didik ke tingkat yang lebih baik, dengan cara dan proses yang baik pula, serta dalam konteks positif.

Adanya beberapa bentuk kekerasan dalam pendidikan yang masih merajalela, menurut dia, merupakan indikator bahwa sistem pendidikan kita masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

”Di sinilah urgensi humanisasi pendidikan. Humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi bangsa yang cerdas nalar, cerdas emosional, dan cerdas spiritual, bukan malah menciptakan individu-individu yang berwawasan sempit, tradisional, pasif, dan tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi,” kata Tri.

Psikolog dari RS St Elisabeth, Probowatie Tjondronegoro, mengatakan, rambu-rambu yang mengatur tentang bullying tersebut hingga kini tidak ada. Sehingga punishment yang diterima pem-bully juga tidak ada.

”Bagi siswa, tergabung dalam sebuah kelompok merupakan hal yang diinginkan oleh mereka. Bahkan hingga harus menerima konsekuensi di-bully oleh teman-teman dalam kelompok tersebut,” ujarnya.

Seorang siswa akan menerima apa pun konsekuensinya, meski harus melalui proses pem-bully-an oleh kelompok tersebut.

Probo mengakui, saat ini masih banyak guru yang belum menangani serius peristiwa pem-bully-an yang terjadi di kalangan anak didiknya.

”Balas-membalas di antara senior dan junior terus-menerus terjadi, dan itu sudah membudaya. Yang salah siapa? Yang salah awal ya dari keluarga. Pelaku pem-bully-an seringkali di-bully di dalam keluarganya, entah itu kakak maupun adiknya, sehingga ia mencari pembalasan di luar,” paparnya.

Selain itu, sistem kontrol yang minim di sekolah menjadikan siswa inferior menjadi mudah ditindas oleh siswa superior. (ewb/aro/ce1)