Dana PSKS Dipotong, Warga Protes

123
TIDAK PUAS : Warga melakukan negosiasi dengan aparat Kelurahan Temanggung I terkait ketidakberesan pengelolaan PSKS. (ABAZ ZAHROTIEN/RADAR KEDU)
 TIDAK PUAS : Warga melakukan negosiasi dengan aparat Kelurahan Temanggung I terkait ketidakberesan pengelolaan PSKS. (ABAZ ZAHROTIEN/RADAR KEDU)

TIDAK PUAS : Warga melakukan negosiasi dengan aparat Kelurahan Temanggung I terkait ketidakberesan pengelolaan PSKS. (ABAZ ZAHROTIEN/RADAR KEDU)

TEMANGGUNG—Ratusan warga RW 03, Lingkungan Padangan, Kelurahan Temanggung I, Kecamatan Temanggung melakukan aksi protes di gedung pertemuan kampung setempat. Aksi protes dipicu dari dugaan ketidakberesan dalam proses pembagian dana Program Simpanan Kesejahteraan Sosial (PSKS) oleh perangkat kelurahan.

Menurut pengurus Lingkungan Padangan, Gede, 30, warga protes karena ada indikasi penyalahgunaan wewenang salah satu oknum perangkat saat pembagian dana kompensasi kenaikan bahan bakar minyak (BBM) kepada 52 warga setempat.

Pertama, ditemukannya nama salah satu warga yang telah meninggal dunia satu tahun lalu namun masih terdata mendapat jatah pembagian dana kompensasi. Setelah ditelusuri, ternyata kartu PSKS atas nama Asiyah ini dibawa oleh oknum tersebut. Bahkan uang pencairannya juga turut dibawa oknum perangkat kelurahan.

Kasus berikutnya yang melibatkan oknum yang sama adalah penyunatan dana PSKS terhadap 8 orang penerima. Enam diantaranya dipotong sebesar Rp 50 ribu, dan dua sisanya masing-masing Rp 100 ribu. “Total ada uang sebesar Rp 900 ribu yang dibawa oleh oknum perangkat kelurahan itu. Termasuk sebesar Rp 400 ribu yang dimiliki mbah Asiyah, padahal dia sudah meninggal,” protesnya.

Gede mengatakan, setelah beramai-ramai didatangi oleh warga Padangan lain, si oknum tersebut berkilah bahwa seluruh uang itu akan dibagikan kepada warga lain yang sebenarnya berhak mendapat jatah dana PSKS namun tidak tercantum dalam data. Ternyata ulah oknum itu sama sekali tidak diketahui Lurah setempat. Bahkan yang membuat geram, tidak ada musyawarah bersama dengan warga sebelum pemotongan ini dilakukan.

“Setahu kami, delapan orang yang mendapat pemotongan oleh oknum ini tiba-tiba dicegat di tengah jalan, tepatnya depan Masjid Arrachman setelah warga yang terdata menerima uang PSKS itu. Namun setelah kami tanyakan di mana uangnya, katanya sudah dibagikan kepada enam warga lain yang belum dapat,” katanya.

Warga, menurut Gede, hanya meminta transparansi dan kejelasan lantaran kerap kali bantuan warga tidak sampai ke tangan yang berhak. Selain itu, mereka meminta adanya sosialisasi terlebih dahulu terkait apapun bantuan yang akan diberikan. Jadi, tepat sasaran dan tidak menimbulkan masalah setelahnya.

“Masak sosialisasi hanya lewat perangkat, seharusnya (ketua) RT-nya yang melakukan. Apalagi ada pemotongan bantuan seperti ini tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Jangan jadi preman berseragam, kan mereka sudah digaji,” ungkapnya mewakili aspirasi warga lainnya.

Terpisah, Lurah Temanggung I Muhammad Ridwan mengaku masalah tersebut sudah diselesaikan dalam forum tersebut. Warga dan pihak perangkat telah berdamai. “Sebenarnya oknum ini sudah konfirmasi terlebih dahulu dengan yang bersangkutan, tapi memang tidak berembug dalam forum warga lain. Kami mengimbau agar kerjasama serta komunikasi warga dan perangkat lebih ditingkatkan agar tidak ada kesalahpahaman lagi,” tandasnya. (zah/ton)