Cegah Penebangan Liar, Wajibkan Pendaki Tanam Pohon

174
SETIA JAGA GUNUNG : Mbah Basri di usia 60 tahun tetap semangat menjaga Gunung Perahu agar tetap lestari. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
SETIA JAGA GUNUNG : Mbah Basri di usia 60 tahun tetap semangat menjaga Gunung Perahu agar tetap lestari. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
SETIA JAGA GUNUNG : Mbah Basri di usia 60 tahun tetap semangat menjaga Gunung Perahu agar tetap lestari. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

Usia renta tak menghalangi seseorang untuk berkarya kepada lingkungan sekitarnya. Seperti Basri, 60 yang sudah 20 tahun mengabdikan diri untuk menghijaukan Gunung Perahu di Kecamatan Sukorejo. Seperti apa?

BUDI SETYAWAN, Kendal

BERHARAP agar lingkungan sekitar asri dan hijau tidaklah cukup. Harus ada tindakan nyata dimulai dari hal kecil, dari diri sendiri dan saat ini juga. Setidaknya itulah pelajaran berharga yang bisa dipetik dari Basri.

Memasuki usianya yang sudah kepala enam, warga Desa Purwosari Kecamatan Sukorejo ini tidak patah semangatnya untuk menghijaukan Gunung Perahu. Mbah Basri (sapaan akrabnya) hampir 20 tahun mendarmakan diri untuk menjaga kelestarian alam di gunung tersebut.

Hal itu ia lakukan dengan menjaga gunung dari penebangan liar dan menanami pohon agar gunung tetap hijau. Bahkan karena kuatnya menjaga Gunung Perahu, Mbah Basri dikenal warga sekitar sebagai juru kunci gunung yang berada di perbatasan antara Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo ini.

Untuk melestarikan alam tersebut, Mbah Basri menerapkan aturan bagi tiap pendaki di Gunung Perahu diharuskan untuk membawa pohon. Pohon tersebut dipersilahkan untuk ditanam di sepanjang rute menuju puncak. Bukan hanya para pendaki, Mbah Basri juga rela ikut menanam pohon yang dibawa para pendaki. “Sedikitnya 10 sampai 20 bibit pohon ditanam di Gunung Perahu setiap harinya. Itu biasanya sumbangan dari para pendaki dan para pecinta alam yang berkunjung,” ujarnya.

Basri mengaku tindakannya menjaga gunung ia lakukan dengan sukarela alias tanpa upah maupun gaji dari pemerintah. Baginya, hutan perlu dijaga kelestariannya untuk anak cucu dan warga di sekitar lereng Gunung Perahu. Dia bahkan bukan pegawai Perhutani ataupun Balai Konservasi. “Saya tidak pernah berpikir macam-macam, yang saya pikirkan itu sumber air di Gunung Perahu sangat vital bagi kehidupan warga di sekitar lereng gunung. Jika tidak dijaga dan dipelihara akan berdampak pada kebutuhan air bersih bagi warga,” tegasnya.

Kerelaan menjaga kelestarian alam bukan hanya dilakukan dengan menanam pohon. Dia bahkan berani untuk menghalau para oknum yang ingin menebang pohon yang mengakibatkan kerusakan hutan. Setiap harinya dia selalu berkeliling sekitar 5 hektare lahan hutan untuk melihat perkembangan pohon-pohon yang telah ditanam, sekaligus mengawasi dari pembalakan liar. “Bertemu pembalak dan pencuri kayu sudah sering namun tidak saya tangkap. Saya hanya memberi pengertian agar jangan menebang pohon lagi,” lanjutnya. (bud/ric)