SEMARANG – Pengprov Perbasi Jawa Tengah berjanji akan lebih siap menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) di Bandung 2016 mendatang. Saat ini, tengah dalam masa persiapan untuk membentuk skuad terbaik, menghadapi ajang multievent tersebut.

Ketua Umum Perbasi Jateng Bambang Wuragil mengatakan, pihaknya optimistis Jateng bakal mampu berprestasi, setidaknya mempertahankan prestasi di PON 2012 lalu, di mana tim putri berhasil merebut medali emas dan tim putra meraih perak. “Itu target minimal Jateng di PON 2016. Syukur-syukur kita bisa menyapu bersih medali emas,” tegasnya, kemarin.

Diakui, tidak mudah meraih target tersebut. Karena PON 2016 berlangsung di Jabar, di mana tuan rumah dipastikan akan tampil habis-habisan. Apalagi Jabar selama ini mempunyai kekuatan yang sangat diperhitungkan di level nasional. “Memang tidak gampang. Selain Jabar menjadi tuan rumah, Jateng juga tidak mengikuti pra PON karena kita berstatus peraih emas dan perak di PON 2012 lalu. Ini membuat Jateng juga cukup sulit meraba kekuatan lawan,” tandasnya.

Untuk materi pemain, Bambang Wuragil mengakui, Jateng saat ini mempunyai kekuatan bagus terutama untuk skuad putri. Empat pemain putri Jateng, adalah pemain langganan pelatnas yakni Natasha Debby, Nur, Shinta Ayu dan Yuni Anggraeni. Sementara untuk tim putra diakui memang harus bekerja lebih keras.

Soal kegagalan skuad basket Jateng di PON Remaja I di Surabaya lalu, di mana Jateng gagal meraih medali baik tim putra maupun putri, diakui Bambang karena Pengprov Perbasi Jateng menemui banyak kendala yang sulit di atasi.

Di antaranya persiapan yang sangat minim karena keterbatasan dana untuk menghadapi PON Remaja I. “Persiapannya hanya kurang lebih dua pekan,” ujarnya. Ditambah persoalan materi pemain yang terbatas. Menurut Bambang, beberapa kali pihaknya dihadapkan dengan egoisme sekolah tempat para atlet yang dibidik memperkuat Jateng menuntut ilmu. Saat persiapan ke PON Remaja I, beberapa sekolah enggan melepas pemainnya, dengan alasan memperkuat sekolah di sebuah kejuaraan yang diadakan bersamaan dengan saat pembentukan tim.

“Terutama untuk tim putri. Materi kita terbatas, kepentingan daerah dikalahkan oleh sekolah. Kita tidak bisa berbuat banyak karena sekolah memberikan fasilitas pada mereka, seperti beasiswa dan sebagainya. Sementara Pengprov tidak bisa memberi mereka fasilitas lebih baik,” tandasnya. “Kita juga punya satu pemain yang harus ke Amerika karena program dari DBL yang waktunya bersamaan, Jadi kita tidak tampil dengan kekuatan terbaik,” imbuhnya.

Meski begitu, kegagalan di PON Remaja I akan menjadi bahan evaluasi penting untuk pembentukan tim ke Popnas 2015 serta PON Remaja II 2017 mendatang. (smu)