BERTUKAR ILMU: Sejumlah anggota Komunitas H-024 saat berkumpul di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. (NURCHAMIM/Radar Semarang)
 BERTUKAR ILMU: Sejumlah anggota Komunitas H-024 saat berkumpul di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. (NURCHAMIM/Radar Semarang)

BERTUKAR ILMU: Sejumlah anggota Komunitas H-024 saat berkumpul di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. (NURCHAMIM/Radar Semarang)

Pencinta burung memang gila. Saking tergila-gilanya, mereka rela merogoh kocek hingga Rp 40 juta demi memiliki seekor burung pleci yang ukurannya tidak lebih besar dari kepalan tangan anak-anak. Apa menariknya?

ADJIE MAHENDRA

PARA penggila burung pleci ini tergabung dalam Komunitas H-024. Rata-rata para pleci mania memang ’gila’. Kalau waras, justru tidak akan bisa melatih peliharaannya hingga jadi juara. Hal itu diakui Ketua Komunitas H-024, Habib Ridlo Zamani. ”Syarat utama gabung di komunitas pencinta burung Semarang ini simpel. Yang penting sehat jasmani, tidak harus rohani,” ungkap pria yang akrab disapa Hariz ini sambil tersenyum.

Rata-rata pencinta pleci punya lebih dari 10 ekor burung. Semuanya harus dirawat dengan baik. Mulai memberi makan-minum, membersihkan kandang, hingga melatihnya agar jago ketika diadu di perlombaan.

Hariz menuturkan, pleci yang bagus biasanya hidup dalam koloni. Jika sudah terbiasa srawung dengan teman sejenisnya, burung kecil dengan ciri lingkaran putih di sekitar mata ini punya keberanian untuk berkicau di tengah keramaian. Alasan itulah yang membuat pencinta unggas ini mempunyai koleksi hingga puluhan pleci di rumah mereka.

”Membuat pleci berkicau itu gampang. Gampang banget malah. Yang sulit itu melatihnya agar bisa terus berkicau ketika ditempatkan di glantangan (area lomba burung, Red). Kalau di rumah sudah ahli koar-koar, belum tentu begitu ditandingkan lomba. Malah ada yang terpaksa didiskualifikasi lantaran loncat sana-sini karena panik. Kuncinya ada pada koloni tadi. Jika sudah terbiasa berkoloni, burung itu akan pede di tengah kerumunan burung lain. Bahkan jika tahu kerumunan itu bukan koloninya, pleci akan makin rajin berkicau seolah mengundang teman-teman satu koloninya,” papar Hariz kepada Radar Semarang.

Selain itu, tambahnya, makanan juga sangat memengaruhi kualitas suara dan mental pleci. Terutama untuk ekstra fooding (EF)-nya. Jika kicaunya kurang keras, bisa diberi apel atau anggur merah. Sementara kalau terlalu keras, bisa direm dengan timun dan gambas.

Yang sering jadi soal, karakter pleci berbeda-beda. Hariz memberi gambaran, satu burung satu karakter. Seribu burung seribu karakter. Perkara sukses atau tidaknya pleci bertarung di lapangan dipengaruhi sang pemilik dalam mengenali karakter peliharaannya.

Skill ini yang jarang dimiliki para pleci mania. Sampai sekarang pun, Hariz yang sudah menenggak pengalaman puluhan tahun, mengaku belum ahli mengusai teknik ini. Dia hanya merawatnya dengan sabar, telaten, dan konsisten.

Perkara membedakan pleci jantan dan betina, Hariz masih kerap kebingungan. Baginya, jika dua bulan setelah beli belum ngriwik, berarti pleci itu betina. Begitu juga sebaliknya.

”Pengenalan karakter burung memang hal mutlak. Jika dalam satu koloni perawatannya dipukul rata, bisa-bisa malah rusak. Contohnya, kemarin ada yang meniru cara perawatan pleci yang sudah pernah jadi juara. Ketika metode itu diterapkan di pleci lain, malah sudah satu tahun lebih belum bisa berkicau,” ucapnya sambil terbahak.

Tingkat kesulitan melatih inilah yang membuat para pencinta pleci membentuk Komunitas H-024. Dari yang awalnya sekadar kumpul-kumpul, kini menjadi solid dan jadi ajang saling sharing. Komunitas bermarkas di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) ini resmi berdiri pada 23 Juli 2012 silam. Komunitas ini juga kerap menggelar turnamen burung pleci tingkat nasional.

Lucunya, komunitas yang kini berpenghuni 76 member aktif ini jarang menyabet piala ketika jadi tuan rumah. Seperti perlombaan di kompleks Pantai Marina pada 30-31 Mei lalu yang diikuti ribuan peserta dari pelosok nusantara, hanya segelintir perwakilan H-024 yang dapat juara. Tapi kalau di luar kota seperti Bandung, Surabaya, Jogja, dan Jakarta, H-024 justru sering ditakuti.

Seringnya burung menyabet juara ternyata mampu mendongkrak harga jualnya. ”Kemarin ada yang transaksi hingga Rp 40 juta. Padahal saya tahu persis, pleci itu dulu dibeli hanya Rp 30 ribu saja,” ungkap Hariz.

Tak hanya itu, H-024 ternyata pernah merilis buku pada 2012 silam. Buku tersebut berisi mengenai cara merawat pleci karangan Ketua Komunitas H-024 pertama, R Widi Putro Utomo itu sukses menembus penerbit Gramedia. (*/aro/ce1)