Alat Pendeteksi Longsor Kurang

98
TITIK LONGSOR : Sebuah titik longsor di tebing Dukuh Karanggondang yang merupakan lokasi penempatan alat pendeteksi longsor. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
 TITIK LONGSOR : Sebuah titik longsor di tebing Dukuh Karanggondang yang merupakan lokasi penempatan alat pendeteksi longsor. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)

TITIK LONGSOR : Sebuah titik longsor di tebing Dukuh Karanggondang yang merupakan lokasi penempatan alat pendeteksi longsor. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)

KAJEN- Pemasangan empat alat pendeteksi tanah longsor di empat titik di Kecamatan Kandangserang dinilai belum memadai. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan, sebanyak 14 desa di kecamatan tersebut merupakan daerah rawan longsor.

Seorang ahli Instrumentasi Gama EWS Universitas Gajahmada (UGM) Jogjakarta, Ikhwan Mushadi mengatakan, idealnya di semua titik rawan terdapat alat pendeteksi tersebut. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya bencana longsor. “Idealnya di semua titik rawan ada alat itu. Namun karena terkendala dana, alat pendeteksi itu hanya ditempatkan di daerah paling rawan longsor. Tiga alat ditempatkan di Dusun Karanggondang dan satu titik di Dusun Gamblol Desa Bojongkoneng,” ungkapnya, kemarin.

Ikhwan memaparkan, alat tersebut terdiri dari tiga jenis. Yakni pendeteksi curah hujan (rain gauge), pengukur kemiringan tanah (tilt meter) dan pendeteksi pergerakan tanah (extensometer). Masing-masing alat tersebut dilengkapi alarm serta lampu rotari yang berguna menjadi penanda jika terjadi bahaya. “Ada tiga alarm dengan bunyi berbeda, dari mulai curah hujan, kemiringan tanah dan pergerakan tanah. Kami sudah sosialisasikan saat simulasi. Karena memang kondisi di sini curah hujan cukup tinggi dan kemiringannya curam,” imbuhnya.

Alarm atau tanda bahaya tersebut akan berbunyi ketika melewati batas tertentu. Seperti tilt meter yang akan mengirimkan tanda jika terjadi pergerakan kemiringan tanah 5 derajat, hal itu merupakan tanda bahaya. “Tanda tersebut akan dikirim otomatis ke kecamatan untuk di upload ke internet agar bisa dipantau jarak jauh. Selain itu titik lokasi juga jauh dari Kantor BPBD,” jelasnya.

Untuk di Dusun Karanggondang, kata Ikhwan, rain gauge ditempatkan di atas tebing, tepat di atas tanah yang longsor beberapa waktu lalu. Sedangkan tilt meter diletakkan di dekat masjid yang roboh hampir bersamaan dengan kejadian tanah longsor di Banjarnegara, Jumat (12/12).

Sementara itu, Camat Kandangserang, Istiyanto mengatakan, pemasangan alat tersebut merupakan yang pertama dilakukan di Kabupaten Pekalongan. Hal itu dilakukan mengingat kondisi wilayah Kandangserang yang merupakan pegunungan dan rawan sekali longsor. “Karena sudah ada kejadian longsor Februari tahun lalu. Jalan dan jembatan ke Kecamatan Kesesi- Watukumpul dan Kabupaten Pemalang putus. Saat itu satu dusun habis, rumah warga tingga kuncupnya saja,” ungkapnya.

Istiyanto menambahkan, pada kejadian bencana tanah longsor Februari 2014 tersebut, pergerakan tanah sampai 21 meter selama kurang lebih satu jam. “Saat itu saya sujud syukur sekali karena tidak ada satu pun korban jiwa,” timpalnya.
Pantauan Radar Semarang di lokasi, jalan yang terputus akibat tanah longsor 10 bulan lalu hingga kini masih lumpuh. Namun meski kondisi akses jalan sangat berbahaya lantaran berupa kubangan lumpur di atas tebing, sejumlah warga pengguna sepeda motor tetap nekat melintas. (mg8/ric)

Silakan beri komentar.