DILEPAS: Para calon TKW dipulangkan ke kampung halaman masing-masing setelah dilakukan pemeriksaan di Mapolrestabes Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 DILEPAS: Para calon TKW dipulangkan ke kampung halaman masing-masing setelah dilakukan pemeriksaan di Mapolrestabes Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

DILEPAS: Para calon TKW dipulangkan ke kampung halaman masing-masing setelah dilakukan pemeriksaan di Mapolrestabes Semarang. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Sebanyak 150 (bukan 65 seperti diberitakan kemarin, Red) calon Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Desa Songgom, Brebes harus menelan pil pahit lantaran gagal berangkat ke luar negeri. Setelah diperiksa terkait dugaan kasus pemalsuan data oleh pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) Tegar Sukses Abadi Jalan Plamongansari Raya, Pedurungan, mereka akhirnya dipulangkan ke kampung halaman masing-masing dengan tujuh mobil. Sebelumnya para calon TKW ini sempat selama 3 bulan dikurung di penampungan.

Nur Hayati, 19, salah satu calon TKW mengaku tak jarang mendapatkan perlakuan kasar dan kurang manusiawi. Bahkan dia mengaku sering dimintai membersihkan rumah milik kerabat pemilik PJTKI tersebut. ”Setiap hari disuruh bersih-bersih rumah kerabat pemilik PJTKI tanpa imbalan apa pun,” katanya.

Kesehatan para calon TKW juga tidak pernah mendapatkan perhatian oleh pihak PJTKI. ”Jika salah satu di antara kami sakit, biasanya kami melakukan iuran untuk berobat. Pengelola PJTKI memang kurang peduli,” ujarnya.

Calon TKW lainnya, Khodijah, 18, mengaku justru senang bisa dipulangkan ke kampung halaman. Selama di penampungan, ia mengaku tertekan dan jauh dari kebebasan. Bahkan untuk telepon kepada keluarga pun dibatasi. ”Banyak larangan dibelakukan. Di antaranya kami tidak boleh keluar dari penampungan. Selain itu, kami hanya diperbolehkan komunikasi dengan keluarga menggunakan telepon satu kali dalam seminggu. Saya bersama teman-teman yang lain merasa tertekan,” ungkapnya.

Ironisnya, pihak PJTKI tak kunjung memberikan kejelasan kapan mereka akan diberangkatkan ke luar negeri. Rata-rata para calon TKW takut untuk sekadar menanyakan hal tersebut. Saat ditanyakan pun biasanya tak mendapat jawaban puas, karena pihak PJTKI hanya memberikan janji-janji palsu. Wiwid, 23, calon TKW asal Kemayoran mengaku telah berada di penampungan sejak 8 bulan lalu. ”Sampai sekarang tidak diberangkatkan. Janjinya Oktober lalu, saya akan diberangkatkan ke Singapura, tapi nyatanya sampai sekarang masih di Semarang,” ungkapnya pedih.

Ketua Asosiasi Penempatan Asia Pacific DPD Jateng, Heri Darman, mengaku belum mengetahui atau belum bisa memastikan apakah pihak PJTKI milik Abdullah tersebut bermasalah dan melakukan pemalsuan data. ”Yang saya tahu belum ditemukan dugaan itu, pemilik (Abdullah, Red) sendiri juga masih diperiksa sebagai saksi,” katanya.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengatakan, pihaknya masih melakukan pengembangan penyelidikan lebih lanjut. Hal itu untuk menindaklanjuti dugaan pemalsuan data tersebut. ”Pemilik PJTKI masih kami periksa,” ujarnya. (amu/aro/ce1)