Proyek Diduga Disunat

192
DIDUGA BERMASALAH : Seorang warga melintas di gapura masuk Desa Kemutuk, Kecamatan Tempuran, salah satu desa sasaran proyek padat karya. (MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU)
DIDUGA BERMASALAH : Seorang warga melintas di gapura masuk Desa Kemutuk, Kecamatan Tempuran, salah satu  desa sasaran  proyek padat karya. (MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU)
DIDUGA BERMASALAH : Seorang warga melintas di gapura masuk Desa Kemutuk, Kecamatan Tempuran, salah satu desa sasaran proyek padat karya. (MUKHTAR LUTFI/RADAR KEDU)

MUNGKID– Proyek padat karya di sejumlah desa di Kabupaten Magelang diduga bermasalah. Anggaran yang dikucurkan melalui Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi (Disnakersostran) diduga tak sesuai dengan besaran yang ditentukan.

Salah satu dugaan penyimpangan terjadi di Desa Kemutuk, Kecamatan Tempuran. Tahun ini, dalam DIPA APBD Kabupaten Magelang nomor 026.04.4.039560/2014 tercantum anggaran padat karya di desa paling ujung itu senilai Rp 189 juta. “Namun, hanya diterima oleh pihak desa selaku pengelola sebesar Rp 126 juta,” kata salah satu sumber kepada koran ini.

Menurut dia, anggaran tersebut digunakan untuk betonisasi sepanjang 600 meter lebar 2,5 meter di desa tersebut. Juga untuk membayar masyarakat yang bekerja dalam proyek itu. “Ada ratusan warga yang bekerja digilir setiap RT. Ada 5 RT di sana (Kemutuk),” katanya.

Pihak desa, kata dia, awalnya tidak tahu jika anggaran tersebut dipotong. Namun, belakangan, ketika kasus ini mulai disidik oleh kejaksaan, pemerintah desa baru mengetahuinya.

Pelaksana Tugas (Plt) Disnakersostran Endot Sudiyanto membantah adanya pemotongan tersebut. Menurut Endot, pihaknya telah menyerahkan anggaran sesuai yang tercantum dalam DIPA. “Sudah kita cairkan semuanya ke kepala desa. Tidak ada potongan itu,” katanya.

Pencairan ini, beber Endot, sudah sesuai mekanisme yang ada. Salah satunya, dengan melakukan pengecekan hasil pekerjaan. “Pencairan itu ada prosedurnya. Saya sendiri yang mengecek ke lapangan,” ungkap Endot.

Masih menurut Endot, proyek padat karya tersebut dibuat untuk mengkaryakan masyarakat. “Lebih tepatnya, mengurangi pengangguran,” kata dia.

Dari anggaran yang ada, kata dia, 70 persen dialokasikan untuk membayar tenaga kerja. Sisanya, untuk pembelian material. Selain di Kemutuk, kata Endot, proyek padat karya juga dilaksanakan di Kecamatan Kajoran dan Candimulyo. “Semua sudah selesai,” ungkap dia.

Sementara itu, kasus dugaan pemotongan ini sedang diperiksa oleh kejaksaan. Pantauan koran ini, ada beberapa pejabat Disnakersostran diperiksa di kejaksaan. “Masih kita periksa,” kata Kasi Pidsus, Eddius Manan. (vie/isk)