Perhatian Pemkab terhadap Gakin Kurang

135

KENDAL- Belum semua warga miskin (gakin) di Kendal masuk dalam data program penerima bantuan dari pemerintah. Contohnya Sujari, 75, warga Dukuh Rejosari RT 07 RW III Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu, yang hidup dalam kemiskinan, tapi tidak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah setempat.

Rabu (17/12) kemarin, Sujari nampak sedang duduk di atas kasur kumuh digubuk berukuran 2,5 X 2,5 meter yang berdinding anyaman bambu dan papan yang sudah mulai lapuk.

Tak hanya rumah, kondisi kesehatan Mbah Sujari, begitu dia akrab disapa juga sama memprihatinkannya. Selain tak memiliki sanak famili dan kerabat dekat, kondisinya lumpuh akibat sejak tujuh tahun lalu ditinggal mati istrinya.
Untuk aktivitas sehari-hari, seperti makan, mandi, mengambil air maupun buang air besar dan kecil, kakek ini harus merangkak tempat tidurnya. Maklum saja, ia tidak memiliki tongkat penyangga ataupun kursi roda.

Sujari mengaku, karena sulitnya beraktivitas itulah setiap hari banyak ia habiskan hanya dengan berbaring di atas kasur saja seharian. Sedangkan untuk mendapatkan kebutuhan, ia hanya bergantung dari uluran tangan tetangga sekitarnya.

Untungnya, ia memiliki tetangga yang cukup peduli, seperti nenek Sutri, 65, yang kerap membantunya. Meski terolong warga tidak mampu, tapi Sutri diakui Sujari kerap memberinya makan setiap harinya. Tapi naassnya, kondisi Sujari justru luput dari perhatian pemerintah setempat.

Bahkan, kondisi yang sedemikian memprihatikannya, Sujari tidak terdaftar sebagai penerima Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS). “Saya tidak menerima bantuan apapun dari pemerintah, walaupun yang lain dapat,” kata Sujari.
Sujari menunjukkan ketabahan dan kesabarannya dalam menghadapi hidup yang kian sulit itu. “Saya hanya bisa manut saja, wong mau berontak juga ndak bisa. Kalau ada bantuan ya saya terima, tapi kalau tidak tetap bersykur dan berdoa,” akunya.

Sujari mengaku hanya bisa berterimakasih kepada Ibu Sutri yang selama ini membantu hidupunya. Padahal, kehidupan Sutri tak lebih baik dari Sujari. Sutri yang bekerja sebagai buruh tani juga hanya tinggal di rumah berukuran 3 X 3,5 meter saja. Sutari juag bernasib sama tidak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. “Mbah Sujari, hidupnya sangat menderita. Dia tidak punya apa-apa. Setiap hari, hanya terbaring di atas dipan yang terbuat dari kayu. Saya kalau melihat kasian, sementara dia tidak memiliki sanak famili,” kata Sutri.

Dia berharap, pemerintah dapat mencantumkan namanya dan Sujari sebagai penerima bantuan dana dari program apapun yang sedang dicanangkan. “Kalau ada bantuan yang sifatnya bagi orang miskin, saya berharap kami berdua dimasukkan sebagai penerima,” harapnya. (bud/zal)