Dara Tak Mau Lepas dari Gendongan

172
BERDUKA: Yayuk dan si sulung serta kerabat berdoa di makan Ahmad. (PUPUT/RADAR KEDU)
 BERDUKA: Yayuk dan si sulung serta kerabat berdoa di makan Ahmad. (PUPUT/RADAR KEDU)

BERDUKA: Yayuk dan si sulung serta kerabat berdoa di makan Ahmad. (PUPUT/RADAR KEDU)

AHMAD Nurudin Zuhri, 35, warga Dusun Sikepan II, Desa Bringen, Kecamatan Srumbung, Magelang, meninggal dunia saat menjadi relawan di lokasi longsor Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara. Ia meninggalkan istri dan dua orang anak.
Setyo Rahayu, 28, masih lemas menatap makam suaminya, Ahmad Nurudin Zuhri, kemarin siang. Meski tampak kehilangan, toh Yayuk—panggilan intimnya—tampak tegar.

Sebelumnya, isak tangis keluarga dan pelayat mewarnai rumah duka di Dusun Sikepan II, Desa Bringen, Kecamatan Srumbung. Rumah itu milik pasutri Muhammad Tursus, 65, dan Siti Tokanah, 60, orang tua Ahmad.

Tangisan pilu makin pecah, saat prosesi pelepasan jenazah Ahmad menuju tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat. Meski jaraknya cukup jauh dan harus melewati sungai—serta jalan yang cukup licin—ratusan pelayat antusias mengantarkan jenazah Ahmad ke peristirahatan yang terakhir.

Yayuk masih tak percaya suaminya pergi secepat itu. Namun, baginya, itulah cobaan yang harus diterima dengan lapang hati. Keikhlasan, begitu terpancar kala menceritakan keseharian almarhum.

“Suami saya (Ahmad, Red) sudah dua kali berangkat ke Banjarnegara. Pertama, berangkat pada Sabtu sore dan Minggu pagi sudah pulang. Senin juga masih ngantor. Kemudian, Selasa pagi berangkat lagi ke Banjarnegara,” ucap Yayuk, yang menyebut bahwa suaminya merupakan PNS yang berkantor di Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Provinsi Jawa Tengah wilayah Magelang.

Ibu dua anak itu berkisah, kepergian suaminya pada Selasa lalu memang berniat akan menginap. Karena itu, Ahmad membawa bekal berupa pakaian. Sebelum nahas menimpa, Ahmad sempat menelepon sang isteri, menanyakan kabar anak-anaknya.

“Pukul 15.00-16.00, kami masih kabar-kabaran terus. Saya sempat memberikan pesan kepada suami saya melalui SMS untuk hati-hati, karena berita di televisi kok ada longsoran baru. Suami saya membalas nggih bu. Itu SMS terakhir suami saya,” kenangnya.

Pikiran Yayuk mulai tak tenang, ketika pukul 18.30, ia mencoba menghubungi suaminya lagi melalui telepon dan SMS. “Tak ada jawaban,” tuturnya. Tak lama kemudian, tangisnya pecah, ketika mendapatkan kabar bahwa suaminya meninggal pada Selasa (16/12) sore.

“Saya dikabari kalau suami saya meninggal sekitar pukul 21.15. Ternyata, suami saya meninggal sejak pukul 16.30 sore,” ucapnya sambil menahan bulir air matanya.

Guru wiyata bhakti di SD IT Al-Umar Ngargosoko Srumbung itu tak memiliki firasat apa-apa. Hanya saja, anak nomor duanya yang baru genap satu tahun pada 4 Desember lalu, tak ingin lepas dari pelukan dan gendongan sang ayah.

“Anak saya yang kecil, Dara Lukna Lasita Syaqi, biasanya cuek dengan ayahnya. Tapi, hari itu, sebelum ayahnya pergi, minta gendong terus seperti tidak mau ditinggal,” ucapnya.

Dia tak menyangka, kebersamaan anaknya bersama suaminya itu menjadi perpisahan. Yayuk pun mulai mengingat-ingat pesan terakhir suami kepada anak sulungnya yang sering dia dengar akhir-akhir ini.

“Yang nurut kalau dikandani (nasihati, Red) ibu. Yang manut sama ibu ya,” ujar Yayuk menirukan pesan suami kepada anak sulungnya: Garis Sauqy Ulul Azmi, siswa kelas 1 SD di tempat ibunya mengajar. Yayuk mengaku ikhlas atas kepergian suaminya yang meninggal saat menjadi seorang relawan.

“Semoga suami saya tenang, dimudahkan jalannya, diterima amalnya dan di terima di sisi Allah. Kepada semua keluarga dan teman-teman, saya minta maaf apabila selama ini suami saya punya salah. Mohon semuanya ikut mendoakan,” jelasnya dengan nada lirih. Seperti diketahui, Ahmad merupakan operator alat berat di lokasi bencana. Saat memarkirkan alat berat, tiba-tiba alat berat tergelincir karena tanah longsor. (put/isk)