MEMPRIHATINKAN: Kondisi Banjir yang melanda Desa Balok dan Ngilir mengakibat warga kesulitan beraktivitas. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
 MEMPRIHATINKAN: Kondisi Banjir yang melanda Desa Balok dan Ngilir mengakibat warga kesulitan beraktivitas. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

MEMPRIHATINKAN: Kondisi Banjir yang melanda Desa Balok dan Ngilir mengakibat warga kesulitan beraktivitas. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL—Hujan deras yang mengguyur, Selasa (16/12) hingga Rabu (17/12) dini hari kemarin mengakibatkan sejumlah desa dan kelurahan di Kecamatan Kendal mengalami banjir. Banjir tersebut berasal dari luapan Sungai Kendal lantaran debit air karena curah hujan yang tinggi.

Dari pantauan Radar Semarang, ada empat kelurahan di Kecamatan Kendal terendam air. Empat kelurahan yang terendam air diantaranya kelurahan Pekauman, Patukangan, Ngilir dan Balok. Bahkan puluhan rumah di Kelurahan Ngilir dan Balok terendam banjir setinggi 30 sampai 50 sentimeter.

Tak hanya rumah warga saja, banjir juga menggenangi komplek Kantor Bupati Kendal. Tak pelak, hal tersebut membuat aktifitas warga dan pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di lingkungan Kantor Bupati Kendal terganggu.

Sutris, 39, warga Ngilir mengatakan banjir ini adalah banir yang pertama di awal musim penghujan akhir tahun 2014 ini. Ia mengakui jika banjir diwilayahnya sudah menjadi langganan warga Nglir dan Balok setiap musim penghujan tiba. “Warga sudah tidak kaget lagi dengan banjir air bah dari sungai. Sebab sudah menjadi kebiasaan saat musim hujan. Tapi meski begitu, pemerintah daerah juga seperti membiarkan saja, dalam arti tidak ada penanganan berarti,” katanya.

Ia khawatir jika pemerintah tidak segera turun tangan untuk mengatasi penyebab banjir maka puncak musim penghujan bisa dipastikan banjir akan masih melanda Desa Ngilir dan sekitarnya. “Kalau hujan satu malam saja sudah banjir, apalagi kalau hujannya terjadi beberapa hari berturut-turut,” lanjutnya.

Kabag Humas Pemkab Kendal, Heri Wasito mengaku kalau banjir yang menggenangi jalan sekitar alun-alun yang menuju ke komplek Kantor Bupati. Hal tersebut menurutnya tidak mempengaruhi aktifitas kerja PNS.“Kami tetap masuk kerja dan beraktifitas seperti biasa-biasa saja. Apalagi air yang membanjiri jalan sekitar alun-alun masih bisa dilewati mobil atau kendaraan roda dua,” tandasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal, Paul Robinson Simamora sebelumnya mengatakan beberapa daerah Kendal bagian atas yang rawan longsor seperti Boja, Patean, Plantungan, Limbangan dan Pageruyung, Sukorejo, Singorojo.

Sedangkan daerah yang rawan banjir, seperti Ngampel, Patebon, Kota kendal, Kangkung, Brangsong, Kaliwungu dan Cepiring. Selain itu Pegandon, Gemuh, Rowosari, Weleri dan Ringinarum. “Hampir seluruh wilayah yang diberada di Jalur pantura rawan banjir,” jelasnya.

Puncak musim penghujan tahun lalu, mengakibatkan banjir yang merendam ratusan rumah yang tersebar di 12 kecamatan di Kendal. Diantaranya Ngampel, Patebon, Kota kendal, Kangkung, Brangsong, Kaliwungu dan Cepiring. Selain itu Pegandon, Gemuh, Rowosari, Weleri dan Ringinarum. (bud/zal)