BARUSARI – Pembagian lapak dan kios pedagang di Pasar Bulu baru bakal dilakukan secara bertahap. Diperkirakan, lapak yang ditempati para pedagang bakal berkurang 25-30 persen dari tempat sebelumnya.

Kasi Penataan dan Pemetaan Dinas Pasar Kota Semarang, Oktaviatmono mengatakan, pengundian kios lapak dan kios para pedagang dilakukan secara bertahap yang dimulai Rabu (17/12) hari ini. ”Pengundian akan kita lakukan secara zonasi masing-masing pedagang. Pada Rabu (17/12) besok (hari ini) akan kami lakukan pengundian pedagang pecah belah di lantai 3, serta pedagang aksesori dan konveksi di lantai 1,” ungkapnya kepada Radar Semarang, Selasa (16/12).

Secara teknis, pengundian dilakukan sesuai data yang sudah valid dan diklarifikasi oleh para pedagang. Namun demikian, ukuran lapak dan kios yang ditempati para pedagang dipastikan bakal berkurang menjadi 1 x 1,5 m2, dan tidak sesuai ukuran sebelumnya, 2 x 1,5 m2.

”Teknis pengundian nantinya para pedagang akan dipanggil oleh petugas sesuai nomor urut undian. Kalau punya lapak lebih dari satu, nantinya para pedagang bisa memilih pada tempat di sekitarnya. Sebab, dulu pedagang ada yang punya lebih dari lapak maupun kios. Jadi nantinya untuk yang lebih dari satu titik bisa mendapat tempat sebelahnya sesuai zonasinya. Namun nantinya tempat tersebut bisa berkurang 25-30 persen dari sebelumnya,” terangnya.

Oktaviatmono menambahkan, jumlah pedagang yang akan menghuni bangunan baru Pasar Bulu, yakni sebanyak 1.500 pedagang, jumlah tersebut sudah termasuk PKL oleh-oleh yang ada di Jalan Pandanaran. ”Yang PKL Pandanaran ada sekitar 33 pedagang,” katanya.

Kepala Dinas Pasar Kota Semarang Trijoto Sardjoko mengakui, pengundian akan dilakukan secara bertahap. Selain itu, pengundian dilakukan sesuai zonasi. Diperkirakan, nantinya para pedagang akan bisa menempati bangunan Pasar Bulu yang baru setelah 23 Desember.

”Rabu (16/12) besok (hari ini) saat pengundian, para pedagang kami kumpulkan terlebih dahulu di lantai 1 untuk diberi pengarahan. Jadi, nantinya setelah pengundian tidak ada lagi komplain. Kami juga tidak ada perubahan ukuran tempat,” katanya.

Seperti diberitakan Radar Semarang kemarin, proses pemindahan pedagang Pasar Bulu ke bangunan baru akan dipercepat pada 23 Desember mendatang. Namun jelang pindahan itu, para pedagang mengeluh kepada Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Mereka keberatan dengan menyusutnya ukuran kios/lapak yang telah ditetapkan oleh Dinas Pasar.

Mereka menilai pembagian lapak tidak adil, karena ukurannya terlalu sempit, tidak sesuai dengan ukuran sebelumnya yang ditempati pedagang. Bahkan sejumlah pedagang mengancam akan memboikot saat pengundian lapak yang akan dilakukan Rabu hari ini.

Siti Arya, 52, pedagang sembako mengaku senang pemkot telah membangun Pasar Bulu menjadi lebih baik tanpa dipungut biaya apa pun, namun pihaknya meminta penataannya tidak semena-mena. Berdasar informasi yang diterima pedagang, ukuran lapak sangat kecil, yakni hanya 1,5 meter kali 1 meter. Tidak ideal untuk berjualan sembako.

”Terus terang mendapat kabar ukuran lapak yang hanya segitu, para pedagang gelisah. Daripada mendapat ukuran sekecil itu, lebih baik kita boikot saja, tidak akan mengambil undian lapak,” ancam wanita yang sudah berjualan sembako hampir 40 tahun itu.

Pihaknya juga meminta pemkot dalam pembagian kios dan lapak mengutamakan pedagang yang memiliki surat izin dagang dan disertai foto pemilik sebagai tanda bukti keabsahan.

”Setelah pedagang lama yang memiliki surat izin dagang kebagian semua, baru pedagang lain yang memang tidak memiliki lapak,” harap pedagang yang sebelumnya memiliki kios seluas 6 meter persegi itu. (mha/aro/ce1)