KEMITRAAN: Pengurus YKKS dan jajaran manajer berfoto bersama Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (IST/RASE)
 KEMITRAAN: Pengurus YKKS dan jajaran manajer berfoto bersama Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (IST/RASE)

KEMITRAAN: Pengurus YKKS dan jajaran manajer berfoto bersama Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (IST/RASE)

SEMARANG – Masih tingginya angka kemiskinan hingga mencapai 21 persen dari jumlah penduduk Kota Semarang, memantik perhatian Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegiyapranata (YKKS). Dengan didanai ChildFund dan bekerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia, YKKS turut mengerjakan beberapa project pengentasan kemiskinan.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menyambut positif upaya tersebut. Diakuinya, upaya mengentaskan kemiskinan di Kota Semarang memang tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, tapi membutuhkan bantuan dari berbagai pihak.

”Di tahun 2010 lalu, tercatat angka kemiskinan sekitar 26,4 persen dari 2,6 juta penduduk Kota Semarang. Angka kemiskinan tersebut berhasil kami tekan dengan program Gerdu Kempling. Hasilnya, kini angka kemiskinan masih sekitar 21 persen dari jumlah penduduk kota Semarang,” jelas Hendrar di sela acara forum kemitraan Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegiyapranata (YKKS) di Hotel Santika Semarang, kemarin.

Direktur YKKS, Paulus Mujiran mengungkapkan bahwa beberapa project pengentasan kemiskinan tersebut di antaranya saktia project (sehat, aktif kreatif dan terampil ibu dan anak) yaitu program pengembangan anak usia dini. ”Sasaran program ini untuk anak usia 0-14 tahun, agar tumbuh sehat dan cerdas. Dengan banyak melakukan kelas parenting sehingga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua agar dapat melakukan pengasuhan secara memadai,” jelas Paulus.

Selain itu, ada juga kelas project (komunitas & lingkungan anak senang sekolah) yaitu dengan sasaran anak usia 7-15 tahun di 4 desa/kelurahan dampingan YKKS yaitu Kelurahan Sendangguwo, Kelurahan Tandang, Desa Wonorejo dan Desa Gondoriyo. ”Untuk program ini, kami berupaya melakukan perlindungan pada anak dan SOP-nya sesuai dengan baseline data,” imbuhnya.

Dan yang terakhir adalah garis project (gerakan anak rasional dan kritis) yang konsen pada pendampingan kelompok anak usai 16-24 tahun agar dapat mengembangkan minat, bakat, dengan kapasitas dan kualitas yang beragam.

”Dengan konsen pada perkembangan anak, agar tumbuh sehat dan cerdas. Kami berharap dapat menciptakan generasi yang tangguh dan mandiri sehingga dapat menjadi bekal mewujudkan masa depan yang lebih baik dan jauh dari kemiskinan,” terangnya. (eny/sct/ida/ce1)