Dibongkar, Perdagangan Satwa Liar via Facebook

114
DISITA: Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jateng mengamankan satwa liar yang dilindungi dari tangan A, 31, warga Ambarawa. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

DISITA: Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jateng mengamankan satwa liar yang dilindungi dari tangan A, 31, warga Ambarawa. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
DISITA: Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jateng mengamankan satwa liar yang dilindungi dari tangan A, 31, warga Ambarawa. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

KEMBANG ARUM – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jateng berhasil membongkar perdagangan satwa liar yang dilindungi dengan modus menggunakan media sosial Facebook. Terbongkarnya kasus ini setelah BKSDA Jateng mendapatkan laporan dari dua organisasi peduli satwa dan lingkungan, yakni Center For Orang Utan Protection (COP) dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN).

Dalam penangkapan tersebut, BKSDA dan dua LSM tersebut sebelumnya telah melakukan pemantauan selama 6 bulan, dan berhasil menangkap seorang pelaku penjual hewan liar berinisial A, 31, warga Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Saat penangkapan, A dijebak oleh tim BKSDA yang menyamar sebagai pembeli, kemudian dibekuk di depan sebuah minimarket di daerah Terminal Ambarawa. Dari penangkapan itu, berhasil diamankan 5 satwa liar yang dilindungi berupa 1 ekor trenggiling, 2 ekor kukang Jawa dan 2 ekor kancil Jawa dengan beberapa luka di tubuhnya.

Kepala BKSDA Provinsi Jateng, Surahman, mengatakan, untuk menangkap pelaku penjualan hewan liar tersebut, sebelumnya pihak BKSDA Jateng melakukan pemantauan agar bisa menentukan upaya evakuasi kepada hewan liar yang dijual.

”Kami berhasil menjebak pelaku dan bertemu di sekitar Terminal Ambarawa. Modus penjualannya dengan menggunakan Facebook, kemudian bertemu langsung dengan calon pembeli,” katanya kepada Radar Semarang, Selasa (16/12) siang.

Pelaku mengaku sering menjual hewan liar ke beberapa kota besar di Indonesia. ”Dari pengakuan sementara, pelaku sering menjual hewan ke beberapa kota di antaranya Bandung, dan Jogjakarta. Selain itu juga menjual langsung di beberapa pasar tradisional yang ada di sekitar Kabupaten Semarang,” ujarnya.

Kepala Seksi I Wilayah II BKSDA Jateng, Johan Setiawan, menambahkan, selain menggunakan Facebook, pelaku juga menggunakan email sebagai sarana menjual hewan liar. Setiap ekor hewan liar dijual dengan harga yang bervariatif antara Rp 2 juta sampai Rp 5 juta per ekor.

”Pelaku akan dijerat Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang penguasaan satwa liar, konservasi dan SDA ekosistem di Indonesia dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara atau denda Rp 200 juta. Saat ini, pelaku akan dilimpahkan ke Direskrimsus Polda Jateng guna diperiksa lebih lanjut,” katanya.

Untuk sementara kelima hewan liar yang diamankan dari tangan pelaku akan dititipkan di Kebun Binatang Mangkang guna mendapatkan perawatan. (den/aro/ce1)

Silakan beri komentar.