TERUS DICARI: Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi (bertopi) dan Wakil Ketua DPRD Sukirman meninjau lokasi tanah longsor di Dusun Sijemblung Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara. Hingga kemarin tim SAR gabungan telah menemukan 64 jenasah. (AHMAD SUUDI/JPNN)
 TERUS DICARI: Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi (bertopi) dan Wakil Ketua DPRD Sukirman meninjau lokasi tanah longsor di Dusun Sijemblung Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara. Hingga kemarin tim SAR gabungan telah menemukan 64 jenasah. (AHMAD SUUDI/JPNN)

TERUS DICARI: Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi (bertopi) dan Wakil Ketua DPRD Sukirman meninjau lokasi tanah longsor di Dusun Sijemblung Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara. Hingga kemarin tim SAR gabungan telah menemukan 64 jenasah. (AHMAD SUUDI/JPNN)

BANJARNEGARA – Memasuki hari kelima proses pencarian terhadap korban bencana tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, total korban yang berhasil ditemukan sebanyak 64 korban. Selasa (16/12) Tim SAR gabungan berhasil menemukan 8 korban dalam keadaan tewas.

Kepala Kantor SAR Semarang sekaligus SAR Mission Coordinator Agus Haryono mengatakan, proses pencarian dimulai pukul 06.00 dengan membagi tim SAR gabungan menjadi 2 wilayah sektor, yakni sektor atas dan bawah. Cuaca di pagi hari cerah, sehingga operasi pencarian berlangsung efektif. Namun demikian operasi pencarian kembali terhambat karena pada pukul 11.30 ketika langit mulai gelap dan turun hujan. Proses pencarian kembali dilakukan setelah hujan reda, sekitar pukul 13.30.

“Selain dengan alat manual, pencarian juga dilakukan menggunakan sedikitnya 15 alat berat, 8 eskavator dan 7 buldoser,” jelas Agus.

Sementara itu On Scane Commander (OSC) dalam operasi SAR tersebut Nyoto Purwanto mengatakan, operasi pencarian terpaksa dihentikan. “Pencarian memang kami hentikan lebih awal karena cuaca tidak mendukung. Terjadi longsor susulan, risikonya penolong bisa tertimbun longsor,” tegasnya.

Menurut Nyoto, sedikit saja ada air yang menetes akan ada guguran tanah. Jika terjadi hujan deras seperti kemarin, maka bisa saja terjadi longsor susulan, karena sifat tanah yang sangat labil. “Jadi itu alasannya kenapa kita menghentikan pencarian di hari ini (kemarin, red),” imbuhnya.

Delapan jasad korban yang berhasil ditemukan diketahui sebagai Kilmah, 40, Giyanti, 27, Fatih bin Agus, 2,5, Supiah binti Tursino, 22, Adit bin Junedi, 10, Supono bin Sumarno, 27 dan Findi, 12. Sementara satu jasad laki – laki belum teridentifikasi.

Cuaca buruk dan padatnya arus pengunjung serta relawan membuat pengiriman logistik di daerah bencana tanah longsor juga mengalami kendala. Kemacetan panjang terjadi di sepanjang jalur induk serta jalur alternatif. Petugas keamanan terpaksa harus memberikan imbauan agar relawan yang mengirimkan bantuan untuk berbalik arah kembali menuju ibukota Banjarnegara.

“Padat sekali, ini kalau dibiarkan masuk semakin kacau, jalannya kecil tetapi mobilnya banyak sekali. Silakan kembali saja, bantuan silakan dikirimkan ke BPBD Banjarnegara. Bukan kami melarang tetapi keadaan saat ini tidak memungkinkan,” kata petugas keamanan dengan nama Herman di dada.

Sejumlah relawan yang mengirimkan bantuan logistik untuk korban tanah longsor terpaksa harus berbalik arah dan menyumbangkan bantuannya melalui kantor BPBD Kabupaten Banjarnegara. Sementara itu, sebagian relawan yang tetap memaksa masuk, membutuhkan waktu lebih dari dua jam dari pintu masuk jalur alternatif menuju posko pengungsian. “Kami kembali saja, salurkan lewat pemerintahan saja, lewat BPBD,” tutur Yulianto, 40, relawan asal Kabupaten Temanggung.

Dari posko relawan, kebutuhan logistik para pengungsi berupa makanan hampir tercukupi. Untuk kebutuhan khusus perempuan seperti pembalut dan pakaian dalam masih kekurangan. Logistik lain yang masih kurang adalah obat-obatan, pakaian dan kebutuhan bayi dan anak-anak. “Yang kurang lagi trauma healing,” imbuh salah seorang relawan, Andy Setyowati. (zah/ris/jpnn/ton)