Pasar Dalam Negeri Lesu, Tembus Ekspor ke Inggris

199
TEMBUS EKSPOR: Ahmad Soleh menunjukkan kerajinan capung karyanya. (IST)
 TEMBUS EKSPOR: Ahmad Soleh menunjukkan kerajinan capung karyanya. (IST)

TEMBUS EKSPOR: Ahmad Soleh menunjukkan kerajinan capung karyanya. (IST)

Ahmad Soleh sangat kreatif. Warga Jalan Winongsari RT 1 RW 2, Pakintelan Gunungpati ini menyulap bambu menjadi produk kerajinan ekspor. Namanya Blue Dragon Fly. Blue merupakan singkatan dari Bambu Lukis Ukir Ekonomis. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

KELURAHAN Pakintelan, Gunungpati dikenal sebagai sentra penghasil bambu. Sayangnya, pohon bambu itu hanya dijual batangan saja. Hal ini yang mendorong Ahmad Soleh mengubahnya menjadi produk kerajinan yang bernilai jual tinggi. Maka, tercetuslah untuk membuat kerajinan Blue Dragon Fly. Namanya memang keren. Produk kerajinan karya Soleh ini sepintas mirip hewan capung.

”Jadi, awalnya saya ditantang oleh seorang teman untuk membuat kerajinan bambu berbentuk capung. Katanya produk itu mau dikirim ke Inggris. Saya coba, Alhamdulillah berhasil. Seingat saya, saat itu tahun 2010. Modal awalnya hanya bambu di pekarangan saja,” kenangnya kepada Radar Semarang.

Sampel capung yang dibuat lalu dikirimkan ke temannya. Akhirnya karya buatannya pun dipesan sebanyak 10 ribu buah untuk dikirim ke Inggris. Selain Inggris, pada 2012, capung buatannya juga sempat dikirim ke Amerika. ”Tahun 2012, saya diminta untuk mengirim sampel ke Amerika. Alhamdulillah disetujui lagi dan mereka order 4.500 buah capung,” ujarnya bangga.

Sebelumnya sukses memasarkan ke luar negeri, Soleh mengaku sempat kesulitan membuat kerajinan dari bambu tersebut. Sebab, pesanan bambu berbentuk capung itu harus mempunyai bentuk yang mirip dengan capung dan punya keseimbangannya yang pas.

”Awalnya butuh waktu lima hari untuk membuat satu capung. Sempat berkali-kali gagal. Tapi, dengan keteguhan dan tekad kuat, akhirnya saya bisa menciptakan capung dengan bentuk yang hampir mirip, dan tingkat keseimbangan yang cukup tinggi,” katanya.

Saat ini, di kala sepi pesanan, Soleh hanya membuat capung sendiri. Namun, ketika pesanan datang dan berjumlah ribuan, bapak paro baya ini memberdayakan tetangganya untuk membuat kerajinan tersebut.

”Semua jenis bambu dapat digunakan asalkan kualitasnya baik. Seperti umurnya cukup dan bentuknya lurus,” paparnya.
Capung yang dibuat, dijual dijual dengan harga antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu tergantung ukurannya. Terbilang murah memang, dan tidak sebanding dengan kesulitan saat membuat kerajinan tersebut. ”Dari penjualan capung ini, saya bisa menghidupi keluarga saya,” ucapnya.

Diakui, saat ini Soleh mengalami kesulitan dalam memasarkan capung buatannya menyusul berkurangnya pesanan dari luar negeri. ”Untuk pemasaran lokal hanya sekitar Semarang saja. Memang sulit untuk memasarkannya,” keluhnya.

Selain kerajinan bambu, Soleh juga membuat kerajinan dari rotan berupa vas bunga, tempat koran, hingga keranjang makanan. Ia mengaku sesekali mendapatkan pesanan yang dikirim ke Jogja dan Bali.

”Saya harap ada kepedulian dari pihak terkait untuk gencar melakukan pameran dan membantu pemasaran produknya agar bisa lebih luas dari sisi pemasaran. Selain itu, saya juga mengajak tetangga yang masih menganggur dengan memberinya lapangan kerja,” katanya. (*/aro/ce1)