Rajin Eksperimen, Sayuran Pahit jadi Keripik Gurih

440
INOVATIF : Esti Widayati menunjukkan produknya yang digemari konsumen. (Puput puspitasari/radar kedu)
 INOVATIF : Esti Widayati menunjukkan produknya yang digemari konsumen. (Puput puspitasari/radar kedu)

INOVATIF : Esti Widayati menunjukkan produknya yang digemari konsumen. (Puput puspitasari/radar kedu)


Berangkat dari rasa prihatin melihat anaknya tak doyan sayuran, Esti Widayati berkreasi mengolah sayuran menjadi kudapan yang lezat. Hasilnya, kini ia dikenal sebagai perajin keripik dari bahan sayuran yang cukup laris. Produksinya dipasarkan hingga luar kota.


PUPUT PUSPITASARI
, MAGELANG

Bunyi bunyi srang-sreng di dapur terdengar jelas saat Esti dibantu 8 karyawannya memulai mengoreng sayur-sayuran yang sudah terbalut adonan. Seusai digoreng, snak renyah buatannya itu masuk ke mesin spiner untuk menghilangkan minyaknya. Ada keripik terong, keripik pare, daun singkong, seledri, dan keripik daun kemangi yang renyah dan gurih.

Setelah rampung, dan gorengan dingin dia buru-buru membungkusnya, dijejerkan di etalase kaca di ruang tamu. Tak berapa lama, para pelanggannya mulai berdatangan mengambil snak buatannya itu untuk dijual kembali. Terbanyak adalah sales makanan ringan di berbagai swalayan maupun pusat oleh-oleh.

Ibu dua anak yang sering disapa Etik ini berkisah, membuat kudapan dengan berbagai sayuran yang jarang digemari orang itu, memberi tantangan tersendiri. Ia terinspirasi dari pengalaman memiliki dua putri yang susah makan sayuran. Walau dia sudah memasaknya dengan masakan bervariasi. Namun usaha itu gagal, tetap saja anaknya tak mau mengonsumsi sayuran. Padahal dia tahu, sayuran memiliki gizi yang penting untuk pertumbuhan anak.

“Dari situlah saya mengubah sayuran menjadi makanan ringan. Dengan harapan, anak saya belajar mencintai sayuran,” katanya saat ditemui di rumahnya Rabu (10/12) siang lalu di Jalan Jeruk Timur, Kelurahan Kramat Selatan, Kecamatan Magelang Utara.

Ternyata, cara itu menjadi jurus ampuh untuk menguggah anaknya mencintai sayuran. Dia menjadikan anaknya sebagai tester untuk snak buatannya itu.

“Anak saya bagian icip-icip. Setelah anak saya suka, suami juga suka, dan saya juga merasakan sudah cocok di lidah, saya langsung memproduksinya untuk dipasarkan juga,” akunya.

Tapi untuk membuat cita rasa yang khas, Etik banyak bereksperimen. Hasilnya adalah paru daun singkong, keripik pare tanpa rasa pahit, keripik daun kemangi tanpa rasa getir, keripik daun seledri, dan keripik terong dengan rasa manis.
“Yang paling banyak disukai adalah keripik paru daun singkong. Warna dan rasa yang hampir mirip paru, banyak yang menyebutnya keripik paru sapi KW,” ucapnya sambil tertawa.

Kini usahanya makin besar sampai keluar Magelang, seperti Jogjakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, Pacitan, Malang, Lampung, Solo dan hampir merata seluruh Jawa Tengah. Kendati sudah mahir dan memiliki banyak pelanggan sejak 2009, dia juga pernah mengalami kegagalan.

“Untuk menghasilkan cita rasa yang sama, saya main takaran. Pernah adonan yang saya buat itu jadi lembek dan tidak bisa digunakan lagi padahal takarannya sama. Akhirnya saya buang,” sesalnya.

Sebelumnya, lulusan SMA Kristen I Kota Magelang ini usaha katering. Namun ternyata cukup menyita waktunya untuk beristirahat. Apalagi jika ada pesanan untuk pagi, dia harus bangun pukul 02.00 pagi untuk memulai memasak dengan kondisi yang masih ngantuk.

“Jadi saya sudah yakin akan meneruskan usaha ini. Walau hasilnya sedikit, tapi tidak terlalu menguras waktu saya untuk beristirahat,” tambah ketua KUB Jaya Abadi.

Ia juga memproduksi keripik tahu, juga selondok dan makanan ringan lain. Isteri Budi Sutrisno itu mengaku setiap hari membuat keripik dalam jumlah yang cukup besar, masing-masing jenis keripik sampai 20 kilogram. “Saya bersyukur, omzet tiap hari mencapai Rp 1,6 juta. Saya senang bisa bantu suami saya yang bekerja di properti di Karanganyar, dan bisa buat tambahan untuk biaya kuliah dan sekolah anak saya,” ujar perajin yang menggunakan nama Jaya Makmur itu.

Walau demikian, sebagai usaha mikro kecil menengah (UMKM), dia terkena dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu. Dia mengeluhkan bahan adonan, minyak dan sayuran yang digunakan untuk memproduksi kudapan juga ikut terkerek. Alhasil, keuntungannya berkurang. Belum lagi diperparah dengan gas elpiji 3 kilogram yang sulit dicari, itu menjadi kendala yang krusial.

“Saya berharap harga bahan dan sayuran turun lagi. Kalau harganya terus naik, usaha kecil seperti saya ini terasa berat melakoninya,” pintanya.

Bayangkan saja, saat dia menaikkan harga jual keripik sekitar Rp 2.000-5.000 per-ball, konsumennya komplain. Bahkan jika ada sayuran yang harganya melejit, Esti terpaksa menolak pesanan.

“Sekarang seledri Rp 15.000 per kilo padahal sebelumnya hanya Rp 6.000 per kilogram. Itu nggak seimbang dengan harga jual. Padahal pesanannya banyak, terpaksa tetap saya tolak. Sebenarnya sayang, tapi kalau tetap diterima nanti juga risiko,” urainya.

Sementara itu anaknya, Regina Trisnasari, 14, mengaku sudah gemar makan sayuran. Apalagi soal makan snak sayuran ala ibunya, tak diragukan lagi. “Ibu sudah berusaha untuk membuat kami suka sayuran, sampai direla-relain buat snak dari sayuran. Jadi sekarang anak-anak ibu sudah gemar makan sayuran,” pungkas Regina sembari tersenyum. (*/lis)