MENOLAK: PKL Pandanaran yang menolak dipindah ke bangunan Pasar Bulu yang baru. (M HARIYANTO/RADAR SEMARANG)
MENOLAK: PKL Pandanaran yang menolak dipindah ke bangunan Pasar Bulu yang baru. (M HARIYANTO/RADAR SEMARANG)
MENOLAK: PKL Pandanaran yang menolak dipindah ke bangunan Pasar Bulu yang baru. (M HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

RANDUSARI- Rencana Dinas Pasar Kota Semarang memindah para pedagang kaki lima (PKL) Pandanaran ke dalam Pasar Bulu bakal mengalami hambatan. Pasalnya, hampir semua pedagang menolak dipindah, dan lebih memilih berjualan di trotoar kawasan oleh-oleh tersebut. Tercatat, ada 33 PKL Pandanaran yang enggan pindah. Rata-rata mereka berjualan wingko babat dan lunpia.

Pedagang wingko babat, Cici, 45, dengan tegas menolak dipindah ke Pasar Bulu yang baru. Sebab, ia khawatir, di tempat baru itu, omzet penjualannya bakal merosot. “Kalau di sana (Pasar Bulu) nanti harus mulai dari nol lagi. Belum tentu laku seperti jualan di tempat sini. Kalau untuk coba-coba ya nggak mungkin. Hasil berjualan ini kan buat menghidupi keluarga. Apalagi kalau di sana kan pasar, bukan tempat oleh-oleh makanan khas,” ungkap Cici kepada Radar Semarang, Jumat (12/12).

Hal sama diungkapkan Warsono, 47, pedagang wingko babat lainnya. Dia justru berharap pemkot tetap mengizinkan para PKL berjualan di trotoar Jalan Pandanaran. Sebab, kata dia, kawasan Pandanaran susah menjadi ikon pusat oleh-oleh makanan khas Semarang.

“Kalau bisa pemerintah menyediakan tempat di sini, dan memfasilitasi para pedagang dengan membuatkan tempat jualan yang seragam. Supaya serasi. Apalagi di sini kan sudah menjadi ikon kota. Pengunjung di sini tidak hanya warga Semarang dan luar kota, tapi juga turis asing,” katanya.

Ketua Paguyuban PKL Pandanaran, Muslimin, mengatakan para PKL merasa keberatan dipindah ke dalam bangunan Pasar Bulu yang baru. Alasannya, para pedagang takut di tempat baru itu tidak laku. “Teman-teman PKL khawatir sepi pembeli. Apalagi di tempat baru kan itu, kami harus mulai dari nol lagi,” ujarnya.

Kepala Dinas Pasar Kota Semarang, Trijoto Sardjoko, mengatakan, pihaknya akan melakukan sosialisasi dan pertemuan dengan para PKL Pandanaran. Hal ini untuk mencari solusi terbaik.

“Kami akan lakukan pertemuan dengan ketua paguyuban pedagang untuk membahas masalah relokasi tersebut. Sebelumnya, ketua paguyuban katanya mau menemui saya, tapi saya tunggu sampai sekarang belum datang juga,” katanya. (mha/aro)