Nelayan Tambak Lorok Tak melaut

103

TAMBAK LOROK-Sebagian nelayan Tambak Lorok berhenti melaut karena faktor cuaca yang tidak menentu selama memasuki Desember 2014 hingga 2015 mendatang. Bahkan dari 1000 nelayan di tempat tersebut, hanya 20 persen yang nekat melaut.
Kepala Pengurus Nelayan Kelompok BLU Tiga Belia Tambak Lorok, H Ahmad Sueb mengatakan bahwa para nelayan di Tambak Lorok bakal berhenti melaut hingga empat bulan ke depan.

“Kalau sudah memasuki musim penghujan seperti ini, gelombang sangat tinggi 1-2 meter dan cuaca tidak menentu. Sementara ini, para nelayan lebih memilih beraktivitas memperbaiki peralatannya seperti jaring dan mengecat perahunya. Paling hanya 20 persen nelayan yang melaut,” ungkapnya kepada Radar Semarang, Jumat, (12/12) kemarin.
Lanjutnya, sebagian besar perahu nelayan memiliki ukuran dengan panjang rata-rata kurang dari 10 meter dan lebar 3 meter. Ukuran ini tidak mungkin bisa menahan terjangan gelombang dan angin kencang. Selain itu, dengan kondisi seperti ini, tidak seimbang dengan biaya yang dikeluarkan.

“Apalagi harga solar juga naik. Semangat nelayan juga menurun karena hasil tangkapan ikan tidak sesuai dengan jerih payahnya di tengah lautan. Harga ikan juga murah. Makanya, mereka memilih mencari kesibukan di darat dengan kerja serabutan ,” terangnya.

Nelayan setempat, Nur Said, 30, mengakui nekat melaut lantaran memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Selain itu, pekerjaan yang sudah dilakoninya hingga puluhan tahun ini, sudah hafal kondisi musim.

“Saya terpaksa melaut untuk mencari makan sehari-hari dan membiayai sekolah anak saya. Kalau musim penghujan seperti ini memang gelombang sangat itnggi dan banyak ikan yang mudah ditangkap seperti jenis udang yang minggir ke tepi,” pungkasnya.

Sementara itu, Forkaster Prakirawan dari BMG Jateng, Edi Susanto mengakui sekarang hingga tiga hari ke depan gelombang laut mencapai 1,24 meter. Bahkan untuk musim penghujan yang paling diwaspadai yakni bulan Januari mendatang. “Kalau kecepatan angin masih normal hanya 27 kilometer perjam. Untuk intensitas curah hujan yang paling diwaspadai bulan Januari. Sedangkan Pebruari-Maret 2015 curah hujan kembali menurun,” pungkasnya. (mha/ida)