Mengenang 27 Gedung Bioskop Legendaris di Kota Semarang (2-Habis)
Mengenang 27 Gedung Bioskop Legendaris di Kota Semarang (2-Habis)
Mengenang 27 Gedung Bioskop Legendaris di Kota Semarang (2-Habis)


Dulu Kota Semarang menjadi pasar film yang cukup menjanjikan. Antusias warga menonton film di bioskop relatif tinggi. Tak heran, jika banyak berdiri gedung bioskop di Kota Atlas. Namun setelah bermunculan stasiun televisi swasta yang kerap memutar film-film Indonesia maupun Barat, bisnis gedung bioskop mulai meredup.


ABDUL MUGHIS

PADA 1989-1990-an, gedung bioskop di Kota Semarang satu per satu mulai gulung tikar. Kalau pun masih beroperasi, jumlah penontonnya sudah merosot. Akibatnya, para pengelola gedung bioskop harus nombok, lantaran pendapatan dari penjualan tiket penonton tak bisa menutup biaya operasional.

Pengamat perfilman di Semarang, Imam Rahmayadi mengatakan, sejak kemunculan stasiun televisi swasta pertama kali di Indonesia, yakni Rajawali Citra Televisi (RCTI) pada 1989 cukup memengaruhi bisnis gedung bioskop. Sebab, RCTI kerap menayangkan film-film box office, hingga masyarakat mulai bergeser ke televisi.

“Pelan-pelan penggemar bioskop meredup. Selain itu juga muncul persewaan atau rental kaset video yang masih berbentuk pita,” ungkapnya kepada Radar Semarang.

Pasca masa itu, sejumlah gedung bioskop ternama di Kota Semarang pelan-pelan berkurang. “Apalagi ketika memasuki 1998, setelah internet mulai masuk di Kota Semarang, bioskop-bioskop itu kian punah,” bebernya.

Lebih lanjut, kata Imam, masyarakat kian bergesar menjadi pengguna internet. Film-film bisa diakses dan di-download melalui internet. “Penonton bioskop semakin berkurang. Dulu ada 27 gedung bioskop di Semarang, sekarang tinggal 3 bioskop, yakni E-Plaza Simpang Lima, XXI Paragon Mal Jalan Pemuda dan Citra Simpang Lima. Saya yakin, masyarakat masih membutuhkan bioskop,” katanya.

Diakui, menonton film di gedung bioskop sekarang relatif mahal. Harga tiket masuknya (HTM) di atas Rp 30 ribu. Tak heran, jika penontonnya kini didominasi kalangan menengah ke atas.

Terpisah, seorang mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Aditya Ilyas Saputra, 23, saat dimintai komentar mengatakan, eksistensi bioskop sampai saat ini seharusnya masih sangat relevan. “Punahnya sejumlah gedung bioskop, membuat Semarang kehilangan aset wisata,” ujarnya.

Menurut Adit, minimnya bioskop di setiap perkotaan mempengaruhi dunia perfilman di Indonesia tidak bisa berkembang. “Menonton film itu seperti budaya membaca buku yang inspiratif. Jika masyarakat kehilangan budaya menonton film, tentu ada nilai-nilai penting yang hilang. Masyarakat kehilangan media belajar. Dunia perfilman kita juga meredup,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan Adit, Semarang sendiri memiliki banyak potensi. Para generasi muda sering kali menciptakan film-film indie. Akan tetapi, keterlibatan atau perhatian Pemerintah Kota Semarang dalam hal perfilman tidak tersentuh sama sekali.

“Menurut saya, bioskop dan kemajuan perfilman patut menjadi bahan kajian, demi membuat kota yang inspiratif. Negara yang maju pasti memiliki maha karya film yang bermutu. Lantas bagaimana jika kondisi sarana dan prasarana pun dibiarkan musnah begitu saja?” tandasnya.

Sementara itu, sejumlah aktivis muda yang tergabung di Hysteria Semarang belakangan getol mengusung program Gerobak Bioskop. Para aktivis muda ini membuat program untuk mengembalikan semangat menonton film dengan menggunakan ruang publik.

“Tidak hanya di Semarang, di sejumlah kota kecil seperti Pati, Lasem, maupun kota-kota lain, banyak ditemui fenomena bioskop gulung tikar. Melalui Gerobak Bioskop ini, kami berusaha membuat bioskop alternatif,” kata Direktur Hysteria, Adin, saat dihubungi Radar Semarang.

Dikatakan Adin, Gerobak Bioskop berusaha membuat bank film berbagai macam jenis, yang diputar untuk masyarakat. “Kami berusaha memberi alternatif kepada masyarakat bahwa menonton film-film bagus tidak harus mengeluarkan biaya mahal,” ujarnya.

Gerobak Bioskop merupakan distribusi media yang terinspirasi oleh semangat layar tancap di Indonesia yang sempat berjaya di masyarakat tempo dulu. “Gerobak Bioskop sendiri telah berlangsung sejak 2011 lalu. Kami memiliki empat sasaran, di antaranya bioskop masuk kampung, bioskop masuk kampus, bioskop masuk komunitas dan bioskop masuk ruang publik. Yang belum terlaksana bioskop masuk ruang publik,” katanya.

Pemutarannya sendiri paling banyak 3 kali dan paling sedikit sekali dalam sebulan. Dilakukan secara bergilir di sejumlah komunitas, kampus, maupun kampung secara gratis. “Untuk tahun ini, sudah terlaksana 10 kampung, tinggal 2 kampung lagi,” ujarnya.

Menurutnya, dalam kurun waktu 3 tahun dari program dan kegiatan, Gerobak Bioskop sudah memberikan dampak positif dalam pengembangan dan distribusi masyarakat berbasis pengetahuan melalui film. “Kami membangun jaringan bersama-sama dengan beberapa elemen di masyarakat,” katanya. (*/aro)