LUWES: Siswa SLB Don Bosco Wonosobo yang menyandang tuna rungu wicara membawakan tari lilin. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
LUWES: Siswa SLB Don Bosco Wonosobo yang menyandang tuna rungu wicara membawakan tari lilin. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
LUWES: Siswa SLB Don Bosco Wonosobo yang menyandang tuna rungu wicara membawakan tari lilin. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

WONOSOBO – Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) dan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) Tahun 2014 di Kabupaten Wonosobo, Kamis (11/12) berlangsung meriah. Selain menjadi momen bahagia bagi para difabel berprestasi, juga jadi wahana unjuk kebolehan siswa-siswi penyandang cacat dari SLB Dena Upakara dan SLB Don Bosco. Sebanyak 60 pelajar tuna rungu wicara berlenggak-lenggok menampilkan keterampilan mereka menari lilin, barongsai, hula-hup, break dance, hingga pantomim.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Wonosobo Agus Purnomo mengaku sangat terharu melihat atraksi yang ditampilkan anak-anak kedua SLB itu. Di tengah keterbatasan fisik mereka, Agus menilai, anak-anak tersebut memiliki potensi seni dan kreativitas luar biasa.

“Kami sengaja mengundang mereka dalam peringatan HDI, karena inilah momentum tepat untuk mereka menampilkan kemampuan, sekaligus membuka mata khalayak,” katanya

Agus menyebutkan, meski serba terbatas, difabel juga bisa berprestasi. Hal itu selaras dengan tema peringatan HKSN, yaitu Bersatu untuk Sesama. Tema itu, harus dipahami segenap masyarakat agar tidak memandang sebelah mata kepada para difabel.

Sekretaris Daerah Wonosobo Eko Sutrisno Wibowo mengaku bangga dengan kiprah para difabel. Meski serba terbatas, mereka tak menyerah dan justru menunjukkan prestasi luar biasa.

“Momentum ini mampu menggugah kesadaran seluruh masyarakat untuk bisa bersatu membantu para difabel di sekelilingnya agar mereka juga dapat berperan serta aktif dalam pembangunan,” katanya.

Dalam acara itu, Dinsos bekerjasama dengan pihak swasta juga memberikan berbagai penghargaan untuk para difabel berprestasi. Tak hanya pelajar, penghargaan juga diterima para penyandang cacat yang dinilai mampu menjadi motivator bagi lingkungannya.

Wardantiningsih dan almarhumah Astiyani, penyandang cacat kaki yang mampu menjadi motivator usaha dan mempekerjakan karyawan normal, termasuk yang diberi penghargaan. Selain itu, para pekerja sosial masyarakat (PSM) dan tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) berprestasi juga berhak atas sertifikat dan uang penghargaan berupa uang pembinaan. (ali/ton)