Teman Korban Diburu

159
NAHAS : Korban Sri Panuti saat masih hidup. (Mahfudz alimin/radar semarang)
 NAHAS : Korban Sri Panuti saat masih hidup. (Mahfudz alimin/radar semarang)

NAHAS : Korban Sri Panuti saat masih hidup. (Mahfudz alimin/radar semarang)

BATANG – Pelaku pembunuhan terhadap Sri Panuti, TKW asal Proyonanggan Selatan, Kecamatan Batang yang dimutilasi di Malaysia masih simpang siur. Keluarga korban semula diberi kabar meninggalnya Sri oleh seseorang bernama Hendra yang mengaku teman dekat korban. Namun siapa sebenarnya Hendra hingga kini masih misterius dan belum diketahui keberadaannya.

“Pada hari Jumat (28/11) memang ada yang memberi kabar ke saya melalui SMS dengan nomor HP Mamak (Sri Panuti-Red), bahwa Mamak telah meninggal. Tapi siapa yang SMS, saya juga tidak tahu,” kata Sigit Adi Prayogo, 23, putra pertama korban.

Dari keterangan keluarga, Sigit termasuk anak korban yang sering menjalin komunikasi dengan korban. Dan ia juga pernah berkomunikasi dengan Hendra, teman dekat korban yang kini merupakan saksi kunci dalam penelusuran kasus tersebut. “Sudah pernah, hanya saja saya belum pernah lihat orangnya. Karena waktu itu kan hanya melalui telepon. Saya juga pernah tanya sama Mamak, katanya dia (Hendra) orang Bandung.” bebernya.

Selain Sigit, Ely Safitri, 15, putri ketiga korban juga mengaku pernah dihubungi korban untuk tidak menggubris telepon maupun SMS dari Hendra beberapa waktu lalu saat ada kabar bahwa korban akan mengirimkan uang untuk membayar SPP. Namun hingga kini uang yang dijanjikan korban belum juga ia terima. “Saat Mamak telepon akan mengirim uang SPP, ia juga bilang kepada saya. Kalau ada telepon maupun SMS dari Mas Hendra, jangan diurusi. Mamak bilang begitu” ungkap Ely.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Jateng, AB Rohman didampingi Kasi Perlindungan, Pujiono, mengatakan bahwa nama Jhon, orang yang dikabarkan Hendra telah memukul korban hanya alibi saja. “Dia sudah berani mengabarkan tewasnya Sri ke anaknya, kemudian komunikasi putus. Karena tidak ada respon, setelah tiga hari ia memberanikan diri untuk menghubungi pamannya bahkan menyebutkan secara samar alamat Polsek Perak” katanya. Ia menambahkan bahwa informasi dari Kedutaan Besar RI di Malaysia mengabarkan Hendra saat ini dalam buronan polisi. (mg12/ric)