AJIE MH/RADAR SEMARANG
AJIE MH/RADAR SEMARANG
AJIE MH/RADAR SEMARANG

SPIRIT untuk terus belajar, berbenah, dan berinovasi menjadi modal utama mengelola sebuah perusahaan, termasuk dalam bisnis kuliner. Setidaknya itulah yang tengah dilakukan Eka Fitianingsih.

Manager Saung Dapur ini harus punya jurus khusus untuk mengembangkan bisnis kuliner yang dikelolanya. Bagi wanita kelahiran Kulonprogo, 12 Oktober 1982 ini, terjun di bisnis kulier itu gampang-gampang susah. “Gampang karena gaya hidup orang Semarang yang suka jajan. Susah karena dituntut teliti dalam penyajian,” ungkapnya kepada Radar Semarang.

Namun yang paling utama, menurut dia, adalah manajemen kitchen. Bagaimana menyiasati agar menu-menu yang disajikan selalu fresh ketika dihidangkan kepada pengunjung.

“Untuk menjaga kesegaran menu-menu olahan ikan tawar, kami punya kolam sendiri untuk memelihara. Jadi, ikan baru diangkat dari kolam setelah ada pesanan dari pelanggan,” katanya.

Tak hanya itu, penghobi travelling ini mengaku menyimpan sensasi tantangan untuk menggaet pelanggan agar terus kembali ke restoran yang dikelolanya. “Katanya warga Semarang suka angetan-angetan. Kalau ada tempat baru langsung diserbu. Tapi jika sudah bosan, langsung ditinggal,” ujarnya.

Karena itu, Eka ingin memberikan kesan ngangeni kepada para pelanggannya. Konsep restoran dengan saung di tengah kota diharapkan Eka mampu menjadi daya tarik tersendiri. “Kalau suasana nyaman, makanan enak, harganya pun cocok, saya yakin pelanggan pasti akan kembali lagi,” imbuh penyuka ayam asam manis dan jus sirsat ini.

Selain itu, pemilik postur 161 sentimeter dan berat badan 50 kg ini juga membandrol promo untuk menggaet komunitas. “Tak lama lagi, akan ada banyak paket yang kami tawarkan. Seperti paket hemat, meeting, gathering, atau wedding,” ungkapnya.

Ke dapan, Eka ingin mengembangkan bisnis kulinernya hingga ke beberapa kota di Indonesia. “Jogja dan Surabaya jadi incaran utama,” pungkas ibu dari Muamar Rafidan ini. (mg16/aro).