Si Sulung Meninggal karena Tak Ada Biaya Berobat

193
BUTUH BANTUAN: Siyamti bersama ketiga anaknya di depan rumah mereka. Dua anak Siyamti menderita penyakit aneh dan butuh perawatan serius. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
BUTUH BANTUAN: Siyamti bersama ketiga anaknya di depan rumah mereka. Dua anak Siyamti menderita penyakit aneh dan butuh perawatan serius. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
BUTUH BANTUAN: Siyamti bersama ketiga anaknya di depan rumah mereka. Dua anak Siyamti menderita penyakit aneh dan butuh perawatan serius. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

Kisah kelam dialami anak-anak pasangan suami istri Madiyono-Siyamti, warga Dusun Bendungan, Desa Mutisari, Kecamatan Watumalang. Anak mereka: Nasriyah, 16, dan Lutfiyah, 3, menderita penyakit kelainan kulit. Bahkan, si sulung, meninggal lebih dulu pada usia 17 tahun, karena penyakit yang sama.

SUMALI IBNU CHAMID, Wonosobo

DUSUN Bendungan, Desa Mutisari, Kecamatan Watumalang, cukup jauh dari jantung Kota Wonosobo. Menuju dusun itu, menempuh perjalanan hingga 20 kilometer.

Di perkampungan dusun di lereng Gunung Sembrani ini, terdapat keluarga yang belasan tahun anak-anaknya dirundung derita. Yakni, anak-anak pasangan suami-istri Madiyono- Siyamti.

Sejak kecil, tiga anak pasutri itu , mengalami jenis penyakit kulit yang aneh. Kulit sekujur tubuhnya mengelupas. Pada hari-hari tertentu, si kulit mengeluarkan darah. Bahkan anak sulungnya, meninggal pada usia 17 tahun, karena penyakit yang belum diketahui obatnya itu.

Setelah ditinggal anak sulungnya, Madiyono dan Siyamti, kini hidup bersama tiga buah hatinya: Nasriyah, 16, Suliyah, 13, serta Lutfiyah masih berusia 3 tahun. Dari ketiga anak itu, Nasriyah dan Lutfiyah menderita penyakit yang sama dengan si sulung. Sedangkan Suliyah, kulitnya berkembang normal.

Saat koran ini mendatangi rumahnya, Nasriyah tengah menggendong adiknya, Lutfiyah. Seperti halnya Nasri, Lutfiyah pun sejak lahir sudah menderita kelainan kulit. Kulit di sekujur tubuhnya melepuh dan menunjukkan pengelupasan, sehingga tampak memerah seperti bekas terbakar.

Sehari-hari, Nasriyah merasakan perih di sekujur tubuhnya. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu, mengeluarkan darah. Siyamti, sang ibu mengaku telah berupaya mengobatkan kedua anaknya. Namun, karena keterbatasan biaya, langkahnya terpaksa terhenti sampai di Puskesmas setempat. “Kami tidak punya biaya untuk mengobati anak-anak kami,” kata Simyati, sembari mengusap air mata.

Nasri mengatakan, dia pernah membawa anaknya ke Puskesmas. Namun, dokter tidak menyebutkan jenis penyakit yang diderita buah hatinya. Dia mempunyai niat untuk memeriksakan anaknya ke dokter spesialis kulit. Namun, karena miskin, harapan itu pupus. “Pendapatan kami kecil, suami saya hanya buruh tani,” katanya.

Akibat penyakit ini, Nasri mengalami hidup penuh derita. Tidak hanya karena kulit yang gatal dan panas. Namun, tiap hari, ia terpaksa mengurung diri. Dia telah kehilangan masa kecilnya. Akibatnya, Nasri buta huruf, juga buta aksara. Contohnya, saat ditanya tanggal lahirnya, Nasri hanya menunduk sedih. “Karena malu, anak saya tidak sekolah, dia juga jarang bermain dengan anak-anak,” ucap Siyamti, memilukan.

Pekerjaan suaminya yang hanya sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu, membuatnya makin tak berdaya. Ironisnya, meski miskin, Siyamti mengaku tak punya kartu Jamkesmas, Jamkesda, BPJS, maupun Kartu Indonesia Sehat. “Anak saya yang pertama meninggal dengan penyakit yang sama, juga karena tidak mendapatkan pengobatan.”

Kepala Dinas Sosial Wonosobo, Agus Purnomo, belum lama ini mengunjungi rumah Siyamti. Ia mengaku prihatin. Demi meringankan beban Nasri dan Lutfi, Agus berjanji mengupayakan bantuan pengobatan gratis melalui jaminan kesehatan dari pemerintah daerah. “Kami akan berupaya agar anak-anak ini mendapatkan pengobatan yang baik,” katanya.

Seperti para penderita penyakit-penyakit kronis lainnya di Kabupaten Wonosobo, pihak Dinsos memiliki jaringan yang bersedia membantu menanggung biaya pengobatan. Langkah pertama, pihaknya akan merekomendasi Nasriyah dan Lutfiyah untuk mendapat rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit Umum Daerah. Tujuannya, agar si anak mendapatkan pengobatan yang layak dari dokter-dokter ahli.

“Setelah mendapat kesembuhan, kami memberi akses untuk penyetaraan pendidikannya. Harapannya, baik Nasriyah maupun Lutfiyah, akan dapat merasakan kehidupan normal selayaknya anak seusia mereka,” katanya. (*/isk)
JS: Pada Hari Tertentu, Kulit Mengeluarkan Darah