Rp 3,2 M Melayang di Sektor Minerba

186
Mayadina RM.(IST)
Mayadina RM.(IST)
Mayadina RM.(IST)

SEMARANG-Sepanjang 2010 sampai 2013, penerimaan di sektor mineral energi dan pertambangan (Minerba) Jateng, mengalami kerugian sebesar Rp 3,2 miliar. Potensi kerugian ini berasal dari selisih antara potensi penerimaan dikurangi realitas penerimaan. Sedangkan di Jateng, terdapat 455 izin usaha pertambangan/kuasa pertambangan 206.00 hektare luas izin pertambangan.

Koordinator Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran( Fitra) Jateng, Mayadina RM mengatakan bahwa potensi penerimaan land rent (iuran tetap) dihitung dari izin dan luasan di Jateng. Tarif mengacu pada PP Nomor 9 tahun 2009 yakni izin usaha pertambangan (IUP) dibagi luas wilayah 9 ha dikalikan USD 2 IUP operasi produksi dibagi luas wilayah dikalikan USD 4.

“Sedangkan realisasi penerimaan dapat dilihat dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang alokasi dana bagi hasil untuk sektor pertambangan umum, pada komponen land rent periode 2010-2013,” katanya.

Mayadina menambahkan, Kabupaten Banyumas sebagai daerah yang berpotensi mengalami kerugian cukup besar yakni Rp 1 miliar. Kemudian disusul dengan Provinsi Jateng dengan potensi kerugian Rp 979.010.349.

“Kerugian ini karena pemegang IUP belum bayar kewajiban land rent. Selain itu, data luasan IUP tidak up date, bukti setor bayar land rent tidak disampaikan perusahaan kepada pemda atau dari pemda ke pusat,” imbuhnya.

Fitra Jateng mendesak, agar pemerintah daerah blusukan agar potensi kerugian bisa ditekan. Selain itu, pemda harus menerbitkan dan upaya hukum kepada yang tidak patuh membayar. Pemerintah juga harus memperbaiki mekanisme dan transparansi pembayaran land rent.

“Harus ada tindakan tegas, bagi usaha penambangan ilegal. Dan tetap melindungi lahan konservasi agar potensi yang hilang bisa dinikmati rakyat Jateng,” tambahnya. (fth/ida)