PEMICU ABRASI: Reklamasi di kawasan Pantai Maron tampak dari udara, Selasa (9/12) kemarin. Salah satu objek wisata Kota Semarang ini terancam tinggal kenangan, karena sepanjang 300 meter dari bibir pantai sudah diurug tanah. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
PEMICU ABRASI: Reklamasi di kawasan Pantai Maron tampak dari udara, Selasa (9/12) kemarin. Salah  satu objek wisata Kota Semarang ini terancam tinggal kenangan, karena sepanjang 300 meter dari bibir pantai sudah diurug tanah. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
PEMICU ABRASI: Reklamasi di kawasan Pantai Maron tampak dari udara, Selasa (9/12) kemarin. Salah satu objek wisata Kota Semarang ini terancam tinggal kenangan, karena sepanjang 300 meter dari bibir pantai sudah diurug tanah. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

TAMBAKHARJO- Anda yang pernah berekreasi di Pantai Maron agaknya sebentar lagi pantai yang terletak di sebelah barat Kota Semarang ini bakal tinggal kenangan. Pasalnya, pantai tak jauh dari Bandara Ahmad Yani itu kini telah diurug menjadi lahan yang kabarnya akan dibangun perumahan.

Proses reklamasi sudah sepanjang 300 meter dari bibir pantai. Selain menutup pantai yang setiap Sabtu dan Minggu selalu ramai dikunjungi warga itu, reklamasi juga memicu terjadinya abrasi serta mematikan ekosistem hutan mangrove yang ada di kawasan muara Sungai Silandak tersebut.

Pantauan Radar Semarang lewat udara kemarin (9/12), akibat pengurugan itu, kondisi Pantai Maron semakin parah. Tidak ada lagi tempat bagi pengunjung untuk bisa mandi di pantai. Jangankan mandi, letak bibir laut semakin jauh, lantaran semua sudah rata dengan tanah.

“Saya belum tahu mau dibangun apa, yang pasti sejak beberapa bulan proses pengurugan dilakukan pakai dump truk dan alat berat. Kabarnya yang ngurug PT IPU (Indo Perkasa Usahatama), Mas, ” kata Santoso, 34, warga yang ditemui Radar Semarang di lokasi.

Praktis, sejak adanya reklamasi itu, pengunjung Pantai Maron berkurang drastis. Akibatnya, para pedagang yang membuka warung di sepanjang pantai terancam gulung tikar.

“Wah, sekarang sepi, Mas. Lha orang-orang ke sini mau mandi di pantai sekarang sudah nggak bisa. Yang ada malah debu bertebaran,” keluh salah satu pedagang.

Selama ini pantai altenatif selain Pantai Marina ini ramai dikunjungi seriap Sabtu sore, Minggu pagi maupun Minggu sore. Juga saat hari libur nasional. Hampir di setiap sudut pantai dan warung-warung di tepi pantai penuh pengunjung. Namun itu semua bakal tinggal kenangan. (aro)