MASIH LESEHAN: Para pedagang akik eks Jalan Kartini menggelar dagangannya secara lesehan di Pasar Dargo. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)
 MASIH LESEHAN: Para pedagang akik eks Jalan Kartini menggelar dagangannya secara lesehan di Pasar Dargo. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

MASIH LESEHAN: Para pedagang akik eks Jalan Kartini menggelar dagangannya secara lesehan di Pasar Dargo. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

BALAI KOTA – Pemkot Semarang berencana menjadikan Pasar Dargo sebagai pusat batu akik. Kebijakan tersebut seiring dengan kepindahan pedagang batu akik yang sebelumnya berdagang di median Jalan Kartini ke Pasar Dargo.

”Pemkot berterima kasih kepada sebagian PKL (batu akik) Kartini yang mau pindah ke Pasar Dargo. Mereka berpikir positif membangun PKL Pasar Dargo menjadi lebih baik lagi,” terang Sekda Kota Semarang Adi Tri Hananto usai menghadiri audiensi antara pedagang dengan pemkot, kemarin (8/12).

Terkait dengan hal-hal yang bersifat jangka pendek, lanjut Adi, pihaknya telah menginstruksikan Kepala Dinas Pasar untuk memfasilitasi pedagang semaksimal mungkin. Sedangkan jangka panjangnya, secara teknis PKL Dargo akan jadi pusat batu permata atau batu akik.

”Karena tahun ini sudah penetapan anggaran murni 2015, maka kita akan coba alokasikan di perubahan 2015 untuk DED-nya (detail engineering design). Apalagi mereka (pedagang) sudah memiliki desain sendiri,” terangnya.

Adi menambahkan, untuk merealiasikan wacana tersebut juga perlu kajian, utamanya terkait payung hukumnya. Mengingat bangunan Pasar Dargo masih dalam hak pengelolaan oleh PT Investindo.

”Kalau tidak salah masih 8 tahun lagi atau sampai 2022. Tapi untuk saat ini kita pakai yang belakang Gedung Dargo, yang dulunya untuk jualan beras, itu kan juga kosong. Saya juga sudah minta Kepala Dinas Pasar, Bagian Kerja Sama, dan Bagian Hukum untuk mempelajari aturan-aturan hukum yang ditempuh, jangan sampai kita memberikan harapan kosong,” jelasnya.

Ketua Paguyuban Pedagang Kartini Semarang (PPKS) Sugiyantara mengatakan, desain ini merupakan bentuk sumbangan pedagang sebagai respons positif mereka atas relokasi dari median Jalan Kartini.

”Kurang apa lagi kami ini. Diminta pindah, kami turuti bahkan kami menyiapkan usulan desain bagaimana bentuk pusat batu permata ini nantinya. Jika ini terwujud, maka Semarang akan semakin dikenal di nusantara,” terangnya.

Meski demikian, kendala muncul terkait dengan pendanaan pembangunan los-los pedagang nantinya. Pasalnya, APBD 2015 sudah digedok akhir Oktober lalu, sehingga jika menganggarkan melalui dana pemerintah, paling cepat baru akan dapat dilaksanakan pada APBD perubahan 2015.

Karenanya, pihaknya menyatakan siap mendanai pembangunan los pedagang ini melalui iuran di antara para pedagang. Pedagang yang dinilai mampu, nantinya akan menyumbangkan dana lebih besar dan ditempatkan di depan, sementara pedagang kecil akan menempati los di belakang.

”Kebutuhan dana kasarnya sudah kami hitung sekitar Rp 1,5 miliar dan beberapa donatur sudah menyepakati memberi bantuan. Kendala lain yang muncul adalah bagaimana dengan status los pasar ini nantinya,” tukasnya.

Sesepuh PPKS Slamet Riyanto menambahkan, bangunan Pasar Dargo saat ini dikelola oleh PT Investindo Cipta Karya sejak 1996. Adapun lahan milik pemkot yang dapat digunakan hanya berupa aula besar berukuran sekitar 40×40 meter, sehingga cukup untuk menampung sekurangnya 170-an pedagang relokasi eks Kartini. (zal/aro/ce1)