KREATIF: Papang Pamungkas Satoto (tengah) memberikan penjelasan tentang bercocok tanam sistem hidroponik. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
KREATIF: Papang Pamungkas Satoto (tengah) memberikan penjelasan tentang bercocok tanam sistem hidroponik. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
KREATIF: Papang Pamungkas Satoto (tengah) memberikan penjelasan tentang bercocok tanam sistem hidroponik. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)


Papang Pamungkas Satoto getol mengampanyekan bertanam sistem hidroponik. Sebab dengan sistem ini, lahan terbatas tak jadi kendala. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

RADAR SEMARANG
RADAR SEMARANG

ANDA yang tinggal di perumahan padat, dan tidak memiliki lahan untuk bercocok tanam, apa yang ditawarkan Papang Pamungkas Satoto ini bisa jadi solusi. Ya, Ketua Komunitas Hidroponik Jateng (KHJ) ini memang tengah getol memasyarakatkan bertanam dengan sistem hidroponik.

Lewat bertani dengan sistem hidroponik ini, Anda bisa mengantongi uang tambahan setiap minggu. Tanpa perlu perawatan ekstra, tanaman sayuran bisa dipanen dengan hasil yang cukup prima. Selain tak perlu penyiraman, tanaman tanpa tanah ini juga tak butuh pestisida.

”Pertumbuhan sayuran yang ditanam dengan cara ini relatif lebih cepat. Kira-kira 50 persen dari cara konvensional,” jelas Papang Pamungkas Satoto kepada Radar Semarang.

Ia mencontohkan, sayur sawi sudah bisa dipanen ketika berumur dua minggu saja. ”Hidroponik juga tidak memakan tempat. Kira-kira lahan satu meter persegi mampu menghasilkan sekitar tiga kilogram sawi per dua minggunya,” beber Papang.

Dalam waktu dekat, komunitas ini akan membentuk kelompok penyuplai sayur untuk pedagang masakan kaki lima. Papang menggambarkan, sekarang banyak pedagang mi ayam atau bakso di pinggir jalan yang membutuhkan sayuran segar setiap hari. ”Itulah yang kami sasar untuk menopang biaya kebutuhan hobi. Bisa jadi, hanya dalam sebulan saja, modal bisa kembali,” katanya.

Sekilas, hidroponik memang mahal. Tapi, kata Papang, akan sangat murah dalam jangka panjang. Untuk nutrisi, hanya dibanderol Rp 20 ribu untuk diolah menjadi 500 liter. Sedangkan bibit hanya Rp 3.000 sudah mendapat ratusan biji atau sekitar 10 gram. Sementara rockwoll Rp 60 ribu untuk 500 tanaman.

Untuk perangkat media tanam hidroponik bisa memanfaatkan barang-barang bekas, seperti ember bekas cat tembok, botol-botol plastik bekas air mineral maupun soft drink yang dirangkai dengan pipa-pipa paralon yang sangat mudah didapatkan di toko-toko bahan bangunan di sekitar kita. ”Untuk paralon, pompa air, dan talang bisa digunakan lebih dari dua tahun,” ujarnya.

Meski baru berdiri November 2013 lalu, komunitas ini sudah berani memberikan pelatihan gratis bagi siapa saja yang ingin berhidroponik. Papang memang ingin menyosialisasikan cara sederhana yang menyehatkan. ”Ini kan tanpa pestisida dan bahan kimia. Otomatis lebih menyehatkan,” cetusnya.

Pihaknya menggandeng Dinas Pertanian Jateng untuk menggelar pelatihan-pelatihan yang skalanya lebih besar. Tak hanya itu, KHJ juga bercita-cita menerbitkan buku panduan berhidroponik bagi pemula. ”Kebetulan kepala dinasnya juga suka hidroponik. Hanya saja beliau tidak tahu jika ternyata ada komunitas hidroponik di Semarang,” lanjut Papang.

Memang banyak yang belum tahu jika ada penggemar hidroponik di Jateng. Komunitas ini ber-basecamp di Jalan Papandayan I Gang 3 No 12 Sampangan Semarang. Selain itu, KHJ bisa diakses di Facebook. Tercatat, hingga kini komunitas ini sudah berpenghuni ribuan anggota. ”Kami bisa di-search dengan keyword Komunitas Hidroponik Jateng, pasti ketemu,” katanya berpromosi.

Suci, Dokter Spesialis Patologi Klinik di salah satu rumah sakit di Semarang mengaku menerjuni dunia hidroponik karena tidak punya lahan tanah di rumahnya. ”Akhirnya memilih hiroponik. Dengan cara ini, saya bisa menanam di loteng, pagar, dan di tempat yang terbatas sekalipun,” ujarnya.

Setelah kenal dengan KHJ, wanita yang sudah berhidoponik sejak duduk di bangku kuliah ini berencana memulai bisnis. ”Soalnya selama ini tidak sempat memasarkannya,” katanya. (*/aro/ce1)