PROFESIONAL: Para peserta Workshop ’Azzura Model Hunt’ mendapat sertifikat personal branding, smart fashion, serta tutorial hijab dan make up. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
 PROFESIONAL: Para peserta Workshop ’Azzura Model Hunt’ mendapat sertifikat personal branding, smart fashion, serta tutorial hijab dan make up. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

PROFESIONAL: Para peserta Workshop ’Azzura Model Hunt’ mendapat sertifikat personal branding, smart fashion, serta tutorial hijab dan make up. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

BANYUMANIK – Menjadi model tak harus berbodi seksi. Para hijabers yang memang tidak boleh menunjukkan lekuk tubuh, tetap punya peluang menyandang status model dan peraga busana muslim.

Hal itu dipaparkan owner Azzura Modeling Qory Linda Octasalvia dalam Workshop ’Azzura Model Hunt’ di Nayyaz Bistro Banyumanik, Minggu (7/12) kemarin. Menurutnya, pengguna hijab justru punya peluang lebih besar menjadi model daripada model konvensional.

”Di Semarang, masih jarang ada model berhijab. Padahal, permintaannya sangat banyak. Beberapa kali saya dihubungi untuk diminta mencari orang untuk memperagakan busana muslim di atas catwalk,” ungkapnya.

Melihat peluang itu, Qory mencoba membuka kelas untuk mengasah bakat hijabers yang ingin menggeluti ranah modeling. Untuk menguji animo mereka, Qory mencoba menggelar kompetisi fotogenic sebagai rangkaian workshop pagi kemarin.

”Dari 56 peserta, akan disaring sebanyak 20 finalis. Mereka akan diuji lagi lewat keahlian di atas catwalk pada 27 Desember mendatang di DP Mall untuk diambil tiga pemenang. Acara final itu sekaligus sebagai grand opening dibukanya Azzura Modeling School sebagai pendidikan model hijabers pertama di Semarang,” paparnya.

Sebagai persiapan, lanjut Qory, dalam workshop ini diberikan beberapa kiat kilat menjadi model profesional. Beberapa narasumber memberikan ilmu seputar personal branding, smart fashion, serta tutorial hijab dan make up.

”Dengan begitu, peserta yang belum punya pengalaman seputar modeling bisa lebih paham. Terutama mengenai tutorial hijab dan make up yang bisa mendongkrak penampilan tanpa menggeser pakem. Soalnya ada beberapa yang beranggapan, model harus tampil seksi dan menor meski pakai kerudung,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu peserta Laylly Shahara yang berobsesi jadi model profesional mendapat pengalaman baru dari workshop ini. Sejak dulu, gadis yang mengaku hobi photoshoot session ini jadi merasa banyak kekurangan.
”Terutama soal personal branding. Bagaimana berpose yang benar dan menarik. Selama ini hanya diatur sama fotografernya. Saya hanya manut disuruh gaya ini-itu,” ungkap penyiar radio ini. (mg16/ida/ce1)